Langkah Ilmuwan Mengeringkan Stratosfer untuk Atasi Kondisi Iklim

indotim.net (Senin, 11 Maret 2024) – Sejumlah ilmuwan sedang aktif mempertimbangkan apakah pengeringan stratosfer Bumi secara sengaja bisa menjadi langkah untuk mengatasi krisis iklim yang tengah terjadi.

Ketika orang membicarakan gas rumah kaca, mungkin yang terpikir adalah karbon dioksida dan metana, dua emisi yang sangat bermasalah yang dihasilkan oleh aktivitas industri manusia. Namun, sebenarnya uap air alami merupakan gas rumah kaca yang paling melimpah dan mampu menangkap jumlah panas yang signifikan di atmosfer Bumi.

Sebuah studi terbaru dilakukan oleh para ilmuwan di Laboratorium Ilmu Kimia National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) untuk menjelajahi kemungkinan strategi mendinginkan Bumi dengan mendehidrasi stratosfer, lapisan atmosfer atas, dengan tujuan mengurangi dampak gas rumah kaca yang diproduksi oleh manusia.

Salah satu metode yang dipertimbangkan adalah dengan menyemprotkan partikel-partikel kecil ke lapisan atmosfer, yang memberikan permukaan bagi uap air untuk mengkristal menjadi es dan akhirnya memicu hujan, sehingga membantu mengurangi jumlah uap air di atmosfer.

“Uap air murni tidak mudah membentuk kristal es. Hal ini membantu adanya benih, misalnya partikel debu, agar es terbentuk di sekitarnya,” jelas Joshua Schwarz, penulis utama studi dan ahli fisika penelitian di Laboratorium Ilmu Kimia NOAA dalam sebuah pernyataan.

Banyak uap air masuk ke atmosfer di sekitar daerah tropis, di mana suhu hangat mendorong proses penguapan. Proses ini menjadi perhatian utama para ilmuwan dalam upaya menghadapi tantangan perubahan iklim yang semakin nyata.

Berbekal pengetahuan ini, tim berpendapat target utama dari rencana tersebut adalah Western Pacific Cold Point (WCP), sebuah wilayah seukuran Australia yang bertindak sebagai pintu gerbang utama bagi uap air yang dibawa ke stratosfer.

READ  Bagnaia Raih Kemenangan Sensasional di MotoGP Qatar 2024, Marquez Finish Keempat!

Dengan data observasi dan model komputer, ilmuwan mengidentifikasi dampak penyebaran inti es ke udara jenuh dari WCP terhadap iklim secara holistik. Hal ini memberikan pemahaman yang lebih dalam terkait kondisi lingkungan global kita.

Ilmuwan sedang mempertimbangkan metode geoengineering yang inovatif untuk mengatasi perubahan iklim global. Mereka berpendapat bahwa dengan mengeringkan stratosfer, dapat membantu dalam upaya pendinginan planet ini. Namun, mereka juga menyadari bahwa langkah tersebut tidak akan cukup untuk mengatasi dampak besar dari emisi gas rumah kaca yang terus meningkat akibat aktivitas manusia.

Menanggapi penggunaan metode pengeringan stratosfer, Schwarz menegaskan, “Efeknya sangat kecil.”

Meskipun tidak cukup untuk melakukan mitigasi perubahan iklim saja, para peneliti menyimpulkan teknik ini dapat bernilai sebagai elemen dalam strategi intervensi iklim yang lebih besar.

Namun, walaupun ada potensi dalam menyelesaikan masalah lingkungan melalui geoengineering, pendekatan ini masih mengundang kontroversi karena campur tangan pada sistem kompleks seperti iklim Bumi dapat menimbulkan konsekuensi yang tidak terduga.

Ini juga tidak akan menyelesaikan akar masalah penggunaan bahan bakar fosil, akan tetapi hanya menangani gejala tanpa menyentuh inti permasalahannya.

Sebagai tanggapan terhadap bahaya-bahaya tersebut, sekelompok ilmuwan telah mengajukan permintaan kepada pemerintah-pemerintah untuk memberlakukan moratorium global terhadap upaya geoengineering iklim di planet ini.

Studi yang diterbitkan di jurnal Science Advances berjudul “Considering intentional stratospheric dehydration for climate benefits” membahas ide baru yang menarik untuk mengatasi perubahan iklim secara global.

Kesimpulan

Sejumlah ilmuwan sedang menjelajahi kemungkinan pengeringan stratosfer Bumi sebagai strategi untuk mengurangi dampak gas rumah kaca. Meskipun metode ini memiliki potensi sebagai elemen dalam strategi intervensi iklim yang lebih besar, pendekatan ini tetap memunculkan kontroversi dan tidak akan menyelesaikan akar masalah penggunaan bahan bakar fosil. Studi ini memberikan pemahaman yang lebih dalam terkait kondisi lingkungan global dan menegaskan perlunya pertimbangan matang serta moratorium global terhadap geoengineering iklim.

READ  Kejadian langka: Bambu Mekar Sekali Dalam 120 Tahun dan Terkait Ramalan Bencana di Jepang