Apa yang Memicu Penyerbuan, Penyanderaan, dan Kekerasan di Ekuador?

indotim.net (Jumat, 12 Januari 2024) – Ekuador tenggelam dalam “konflik bersenjata internal,” kata Presiden Daniel Noboa pada Selasa (09/01).

Presiden Noboa memerintahkan militer untuk memulihkan keamanan di jalan-jalan negara itu setelah orang-orang bersenjata menyerbu sebuah studio stasiun televisi TC di Guayaquil, kota terbesar dan pusat ekonomi negara itu, serta menyandera para staf selama siaran langsung.

Terdapat beberapa faktor yang memicu terjadinya penyerbuan, penyanderaan, dan kekerasan di Ekuador. Selain adanya serangan kelompok bersenjata ke universitas dan lembaga publik lainnya, juga terjadi penjarahan di ibu kota Quito.

Peristiwa ini terjadi setelah presiden mengumumkan keadaan darurat pada Senin (08/01), ketika insiden serius terjadi di enam penjara dengan penculikan anggota polisi dan pelarian pemimpin dua geng kriminal besar.

Berikut ini adalah tiga poin penting yang dapat membantu menjelaskan krisis kekerasan dan ketidakamanan yang dialami oleh Ekuador saat ini.

1. ‘Fito’ dan kekuatan mafia

Ekuador sedang menghadapi krisis keamanan yang semakin memburuk, terutama dalam tiga tahun terakhir.

Pada tahun 2023, Ekuador mencatat rekor pembunuhan tertinggi dalam sejarahnya dengan 7.878 kasus, tetapi hanya 548 di antaranya yang berhasil dipecahkan.

Negara ini telah menjadi pusat regional yang penting untuk penyimpanan, pemrosesan, dan distribusi obat-obatan terlarang yang telah memperkuat lebih dari 20 geng kriminal yang menjalankan operasi ini.

Para penghuni penjara Turi di Cuenca masih menyandera beberapa penjaga, setelah kerusuhan yang terjadi pada hari Senin.Getty ImagesPara penghuni penjara Turi di Cuenca masih menyandera beberapa penjaga, setelah kerusuhan yang terjadi pada hari Senin.

Geng-geng ini, yang memiliki pusat komando dan operasi utamanya di dalam penjara, terhubung dengan kartel narkoba besar di Meksiko dan Kolombia.

Beberapa kelompok yang paling terkenal adalah Choneros, Lobos, Lagartos, atau Tiguerones. Mereka bertanggung jawab atas tindakan kekerasan ekstrem, baik dalam konflik internal maupun melawan pemerintah, institusi, atau masyarakat di Ekuador.

Pada bulan Agustus tahun lalu, calon presiden Fernando Villavicencio meninggal dunia akibat pembunuhan bayaran. Meskipun kasus ini masih dalam tahap penyelidikan, banyak pengamat yang mengaitkannya dengan maraknya geng-geng kejahatan.

“Kejahatan ini dan kejahatan-kejahatan lainnya dimaksudkan untuk memberi syarat pada penguasa dan menunjukkan bahwa dalam beberapa waktu terakhir sebagian besar geng telah memegang kendali di negara ini,” jelas pakar politik Ekuador, Andres Chiriboga kepada BBC.

Pada bulan Agustus, calon presiden Fernando Villavicencio ditembak oleh pembunuh bayaran.Pada bulan Agustus, seorang calon presiden bernama Fernando Villavicencio ditembak oleh seorang pembunuh bayaran.

Selain itu, terdapat masalah karena pendapatan dari narkoba, geng-geng ini terdapat di setiap tempat dan jaringan mereka telah menyebar ke segala lapisan masyarakat Ekuador. Bahkan, institusi negara itu sendiri terlibat dalam korupsi.

“Faktor penting adalah penetrasi mereka di berbagai bidang, tidak hanya di kalangan masyarakat tapi juga di kepolisian dan angkatan bersenjata,” lanjutnya.

READ  Aksi Seru Pelajar Bersih-bersih Pantai Tambak Wedi di Kota Surabaya

Inilah satu-satunya cara untuk menjelaskan kaburnya pemimpin mereka dari penjara, seperti Adolfo Macas, alias “Fito” pada akhir pekan lalu.

Baca juga:

Kelompok bersenjata menyerang stasiun TV. Seorang narapidana menyandera sipirnya, sementara itu ketua geng kabur dari penjara. Apa yang sebenarnya terjadi di Ekuador?

  • Kasus pembunuhan kandidat calon presiden: Geng kriminal menyebar teror di negara yang dulu aman.
  • Kandidat calon presiden ditembak mati setelah kampanye. Bagaimana suasana politik di sana saat ini?

Ketua geng Los Choneros sebenarnya harus menjalani hukuman penjara selama 34 tahun sejak tahun 2011 atas kejahatan terorganisir, perdagangan narkoba, dan pembunuhan. Namun dia berhasil melarikan diri dari penjara.

Saat “Fito” melarikan diri, terjadi kerusuhan serius di setidaknya enam penjara di Ekuador. Dilaporkan bahwa beberapa penjaga penjara telah disandera oleh para tahanan.

Saat ini, Ekuador sedang dilanda kekacauan yang disebabkan oleh penyerbuan, penyanderaan, dan kekerasan massal. Salah satu faktor utama yang memicu kejadian ini adalah pentolan mafia, Fabricio Coln Pico, yang dikenal sebagai “El Savage” dan memimpin kelompok kriminal bernama Los Lobos.

El Savage telah menjadi sasaran polisi selama beberapa waktu karena keterlibatannya dalam berbagai tindak kriminal, termasuk perdagangan narkoba, pencurian, dan pembunuhan. Namun, baru-baru ini ia berhasil melarikan diri dari tahanan polisi, menyebabkan ketegangan dan kekacauan di Ekuador.

Banyak pihak yang terdampak oleh keberadaan Los Lobos dan kejahatan yang dilakukan oleh El Savage. Masyarakat Ekuador merasa tidak aman dan khawatir akan meningkatnya kekerasan yang terjadi akibat tindakan kriminal para anggota mafia ini.

Pemerintah Ekuador telah berupaya keras untuk menangkap El Savage dan membawa para anggota Los Lobos ke pengadilan. Namun, hal ini tidak mudah dilakukan mengingat kekuatan dan pengaruh yang dimiliki oleh mafia ini.

Situasi ini semakin rumit dengan adanya serangan dan penyanderaan yang dilakukan oleh kelompok bersenjata yang terkait dengan Los Lobos. Mereka menggunakan kekerasan untuk mempertahankan kepentingan mereka dan menghalangi upaya penegakan hukum pemerintah.

Penyanderaan yang dilakukan oleh kelompok ini mengancam keamanan dan keselamatan masyarakat serta mengganggu stabilitas di Ekuador. Pemerintah dan aparat keamanan terus berusaha untuk mengatasi situasi ini dan mengembalikan ketertiban di negara tersebut.

Peristiwa ini membuat pemerintahan Presiden Daniel Noboa menetapkan keadaan darurat selama 60 hari.

Reaksi terhadap Presiden Noboa

Salah satu fokus terpenting dari kampanye Presiden Noboa adalah keamanan.Getty ImagesSalah satu fokus terpenting dari kampanye Presiden Noboa adalah keamanan.

Daniel Noboa mulai berkuasa pada 23 November, sehingga baru menjabat selama satu setengah bulan.

Gagasan yang paling relevan dan mendapat dukungan mayoritas warga Ekuador dalam pemungutan suara adalah fokus pada perekonomian dan terutama keamanan.

Meskipun dia menampilkan dirinya sebagai politisi moderat, jauh dari pendekatan kekerasan seperti Nayib Bukele di El Salvador, ia merumuskan langkah-langkah yang bertujuan demi melemahkan geng-geng kriminal.

READ  Aksi Mahasiswa PMKRI Memeriahkan Bersih-bersih Pantai Kenjeran

Dalam hal ini, dia berkomitmen untuk mendorong reformasi besar-besaran di sistem penjara. Salah satu langkah utamanya adalah memperkenalkan sistem isolasi bagi para narapidana yang paling kejam dan berbahaya.

Salah satu faktor yang memicu penyerbuan, penyanderaan, dan kekerasan di Ekuador adalah usulan terbaru yang menyebutkan pembangunan penjara terapung di kapal tongkang untuk menahan penjahat berbahaya agar menjauh dari daratan. Tujuannya adalah untuk mencegah mereka beroperasi dari dalam penjara.

Presiden Noboa juga berupaya untuk mengkriminalisasi pengguna narkoba dalam jumlah kecil, menciptakan sistem juri untuk kasus-kasus kejahatan berat, serta melakukan investasi dalam teknologi seperti drone dan radar untuk menetralisir kejahatan terorganisir di jalan raya dan wilayah perbatasan.

Setelah Presiden Noboa mengumumkan keadaan darurat, pasukan keamanan melakukan intervensi di berbagai penjara di negara tersebut. Pada saat Presiden Noboa mengumumkan keadaan darurat, pasukan keamanan melakukan intervensi di beberapa penjara di negara tersebut.

Untuk memperkuat gagasan anti-kejahatan tersebut, Noboa mengumumkan niatnya minggu lalu untuk mengadakan referendum yang akan memungkinkan para pemilih melegitimasi penerapan langkah-langkah keamanan yang lebih ketat.

Menurut beberapa pengamat, niat dan usulan Noboa dianggap sebagai pemacu utama dari aksi geng tersebut.

“Mafia yang terkait dengan perdagangan narkoba bereaksi untuk menunjukkan bahwa mereka mampu mengepung demokrasi,” ujar Chiriboga.

Pakar ilmu politik ini percaya bahwa keputusan darurat yang baru-baru ini diberlakukan oleh Presiden setelah terjadinya pengejaran “Fito” dan kerusuhan yang terjadi setelahnya juga turut berperan dalam memicu tindakan para geng yang menguasai sebuah studio stasiun televisi.

“Keputusannya tampaknya mendorong perang yang dilancarkan kelompok mafia,” ujar sumber yang tidak ingin disebutkan namanya.

Dalam konteks ini, Noboa berpendapat bahwa “Noboa bereaksi tanpa inovasi besar, sangat mirip dengan mantan presiden Guillermo Lasso dan Lenín Moreno, yang mencoba menunjukkan kekuatan; dan reaksi dari kelompok-kelompok ini adalah: ‘tunggu saja, kamilah yang bertanggung jawab dan kami akan menunjukkan ini kepada Anda.'”

3. Pengendalian perdagangan narkoba

Menurut Departemen Luar Negeri AS, pada tahun 2019, sekitar sepertiga kokain yang diproduksi di Kolombia melewati Ekuador sebelum akhirnya sampai ke Amerika Utara dan Eropa.

Dalam beberapa tahun terakhir, negara Ekuador yang berbatasan dengan Kolombia dan Peru, yang keduanya merupakan produsen penting obat-obatan terlarang, semakin meningkatkan keunggulannya di pasar internasional.

Permasalahan ini terjadi akibat peningkatan jumlah narkotika yang disita, penemuan laboratorium narkotika yang semakin banyak, dan terutama adanya peningkatan kekerasan yang signifikan.

Penjara dikendalikan oleh geng kartel narkoba, seperti Choneros, yang dipimpin oleh Getty ImagesPenjara dikendalikan oleh geng kartel narkoba, seperti Choneros, yang dipimpin oleh “Fito”.

Geng-geng kriminal yang semakin kuat, seperti Lobos, Choneros, dan Tiguerones, memiliki hubungan dengan kartel penyelundup narkoba.

Kelompok kriminal di Ekuador umumnya beroperasi secara terpecah-belah, mereka berperan sebagai kontraktor kecil dari organisasi kriminal asing, seperti yang dilansir oleh situs InsightCrime.

READ  Mobil BMW Terbakar di Depan Lobi Mal Jakpus, Petugas Damkar Langsung Terjun ke Lokasi

Setelah Angkatan Bersenjata Revolusioner Kolombia (FARC) melakukan demobilisasi sebagai hasil perjanjian damai dengan pemerintah Kolombia, perhatian internasional semakin tertuju pada Ekuador dalam hal pasar obat-obatan.

Kelompok pemberontak FARC dan organisasi lain yang terkait dengan perdagangan narkoba memainkan peran penting dalam desentralisasi rantai produksi dan distribusi kokain, yang pada gilirannya menyebabkan kelompok mafia Ekuador terlibat dalam bisnis tersebut.

Kelompok-kelompok ini, yang beroperasi terutama di perbatasan dengan Ekuador, di departemen Nario dan Putumayo di Kolombia, bersekutu dengan kartel Meksiko dan organisasi Eropa lainnya, terutama dari Balkan Barat, yang mempertahankan kehadirannya di wilayah tersebut.

Dalam hal ini, para ahli mengungkapkan bahwa partisipasi berbagai organisasi kriminal dari berbagai negara telah memicu konflik wilayah dan meningkatkan tingkat kekerasan di Ekuador.

Di antara organisasi-organisasi ini, dua kartel Meksiko juga menonjol: kartel Sinaloa yang diyakini memulai operasi rahasia di Ekuador sekitar tahun 2003 dengan pengiriman utusan, dan Kartel Generasi Baru Jalisco (CJNG).

Geng Choneros secara historis bekerja sama dengan kartel Sinaloa, sementara Lobo, Lagartos, dan Tiguerones bersekutu dengan CJNG.

Saksikan Live DetikPagi:

Penyerbuan, penyanderaan, dan kekerasan di Ekuador telah mengguncang negara tersebut belakangan ini. Kejadian ini tidak terjadi begitu saja, tapi ada beberapa faktor yang memicunya. Salah satu faktor utama adalah ketegangan politik dan ketidakpuasan masyarakat terhadap kebijakan pemerintah.

Pertama-tama, masalah ekonomi menjadi pemicu utama. Ekuador mengalami krisis ekonomi yang serius, dengan tingkat pengangguran yang tinggi dan inflasi yang meningkat. Hal ini menyebabkan ketidakstabilan sosial dan ketidakpuasan masyarakat terhadap pemerintah.

Selanjutnya, kebijakan pemerintah yang kontroversial juga menjadi penyebab ketegangan. Ada beberapa kebijakan yang diambil pemerintah yang dianggap merugikan masyarakat, seperti peningkatan harga bahan bakar dan pemotongan subsidi. Keputusan ini memicu protes massal dari berbagai kelompok masyarakat yang merasa terpinggirkan.

Tidak hanya itu, ketidakefektifan pemerintah dalam menangani masalah-masalah sosial juga menjadi faktor pemicu. Ketidakadilan, korupsi, dan ketidaksetaraan distribusi kekayaan semakin meningkatkan ketidakpuasan masyarakat terhadap pemerintah. Hal ini tidak hanya mempengaruhi mereka yang kurang beruntung, tapi juga masyarakat luas yang merasa terabaikan.

Terakhir, adanya ketidakharmonisan dalam masyarakat juga turut memicu kekerasan. Perbedaan etnis, agama, dan kelas sosial sering kali menjadi sumber konflik yang memuncak menjadi serangan dan penyanderaan.

Secara keseluruhan, kekerasan dan ketegangan di Ekuador adalah hasil dari kombinasi berbagai faktor, termasuk krisis ekonomi, kebijakan kontroversial, ketidakefektifan pemerintah, dan konflik sosial. Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah perlu melakukan langkah-langkah yang tegas untuk menyelesaikan masalah ekonomi, mengatasi ketidaksetaraan, dan memperbaiki kebijakan yang kontroversial.