5 Faktor Penyebab Kenaikan Harga Telur

indotim.net (Rabu, 06 Maret 2024) – Harga telur di sejumlah daerah Jakarta melonjak drastis hingga mencapai Rp 32.000/kg. Lonjakan harga ini terjadi secara signifikan dalam kurun waktu satu bulan terakhir.

Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Arief Prasetyo Adi menyampaikan bahwa kenaikan harga telur disebabkan oleh faktor biaya pakan yang mengalami kenaikan. Saat ini, harga jagung telah meningkat menjadi Rp 9.000/kg dari sebelumnya sekitar Rp 6.000/kg.

Kondisi tersebut terjadi akibat sulitnya para peternak dalam membeli jagung sebagai pakan ayam petelur. Akibatnya, para peternak memilih untuk mengakhiri masa produktif ayam petelur lebih cepat, meskipun ayam tersebut masih mampu bertelur.

Sebelumnya diketahui bahwa kelangkaan stok telur disebabkan oleh keterbatasan pasokan jagung. Menurut sumber terpercaya, kenaikan harga jagung hingga mencapai Rp 9.000/kg telah membuat peternak kesulitan dalam memenuhi kebutuhan makanan ternak.

Sebelumnya, Arief telah menyatakan bahwa pihaknya telah melakukan impor jagung guna membantu para peternak. Tujuannya adalah untuk menstabilkan harga telur di pasaran.

Saat ini, Ketua Paguyuban Peternak Rakyat Nasional Blitar, Rofi Yasifun, mengungkapkan bahwa banyak peternak yang memilih untuk mengakhiri usia ayam mereka secara prematur. Dampaknya, pasokan telur dari peternak mengalami penurunan yang signifikan.

Dia memproyeksikan peningkatan stok telur menjelang seminggu sebelum Lebaran. Saat ini, para peternak menjual telur dengan harga berkisar antara Rp 26.500 hingga Rp 27.000 per butir. Dia memperkirakan harga tersebut akan terus bergerak naik.

Dikutip dari wawancara dengan peternak ayam, Rofi menjelaskan bahwa kenaikan harga telur disebabkan oleh naiknya harga bahan pakan ternak. Akibatnya, peternak terpaksa melakukan afkir dini meskipun tidak dalam skala besar. Biasanya, usia produktivitas ayam sekitar 90 minggu, namun saat ini sudah berkurang menjadi 85 minggu,” ungkap Rofi dengan nada prihatin.

READ  Berita Inspiratif! Kisah Sukses Ayah dan Anak Lulus Universitas Indonesia

Dia mengatakan merasa terbantu dengan adanya bantuan pakan dari pemerintah melalui impor jagung. Sementara itu, permintaan telur juga mengalami peningkatan belakangan ini.

Situasi ini dipicu oleh tingginya permintaan menjelang Ramadan karena banyak masyarakat yang mengadakan selamatan. Lonjakan permintaan ini terjadi mulai dua minggu sebelumnya dan mencapai puncaknya pada sehari sebelum bulan puasa.

“Hampir semua rumah tangga membeli telur untuk keperluan selamatan. Hal ini telah menjadi bagian budaya di berbagai daerah di Jawa. Sehingga permintaan akan telur meningkat secara signifikan,” jelasnya.

Sebuah kisah menarik datang dari Pedagang telur di Pasar Serdang Kemayoran yang bernama Dede. Ia mengungkapkan bahwa harga telur kini mencapai Rp 32.000/kg, meningkat dari harga sebelumnya yang berada di kisaran Rp 27.000-28.000/kg.

Dede mengungkap bahwa kenaikan harga telur telah terus berlangsung selama satu bulan terakhir. Hal ini terjadi lebih intens menjelang bulan Ramadan. Kisaran harga telur bahkan mencapai di atas Rp 30.000/kg.

“Sekarang (harganya) Rp 32.000/kg. Sudah naik terus ya sebulan. Jadi sebulan naik terus, sebulan mau puasa lah ini mah,” kata Dede.

Senada, seorang pedagang telur bernama Aris juga menjual telur dengan harga Rp 32.000/kg. Aris menyebutkan bahwa kenaikan harga tersebut terjadi sejak dua minggu yang lalu.

Kenaikan harga tidak hanya terjadi pada telur ayam, tetapi juga telur kampung, telur bebek, dan telur puyuh. Faktor utama yang menyebabkan kenaikan ini adalah kelangkaan stok telur di kalangan peternak.

“Stoknya sedang tidak tersedia, sehingga harganya melonjak. Ketika pasokannya mencukupi, harga telur akan lebih terjangkau,” ungkap Aris.

Kesimpulan

Harga telur di sejumlah daerah Jakarta mengalami lonjakan drastis hingga mencapai Rp 32.000/kg dalam kurun waktu satu bulan terakhir. Kenaikan harga telur ini disebabkan oleh faktor biaya pakan yang mengalami kenaikan, terutama harga jagung yang naik menjadi Rp 9.000/kg. Para peternak terpaksa mengakhiri masa produktif ayam petelur lebih cepat akibat sulitnya membeli pakan, menyebabkan pasokan telur menurun. Meskipun pemerintah telah mengimpor jagung untuk membantu peternak, namun kenaikan harga telur dipicu juga oleh tingginya permintaan menjelang Ramadan. Kondisi ini semakin diperparah dengan kelangkaan stok telur di kalangan peternak, yang juga berdampak pada kenaikan harga telur kampung, bebek, dan puyuh.

READ  TKN Sentil Hasto Bagi-bagi Telur tapi Tak Mau Disamakan Susu Gratis: Fomo!+