Kota Kuno 2.500 Tahun Berusia Tersembunyi di Hutan Amazon

Para ilmuwan menemukan bukti adanya 6.000 gundukan yang diduga menjadi dasar perumahan kuno.

indotim.net (Sabtu, 13 Januari 2024) – Stephen Rostain

Para ilmuwan menemukan bukti adanya 6.000 gundukan yang diduga menjadi dasar perumahan kuno.

Sebuah kota kuno berukuran besar telah ditemukan di Hutan Amazon, tersembunyi dalam pepohonan lebat selama ribuan tahun.

Penemuan ini mengubah pemahaman kita tentang sejarah masyarakat yang tinggal di wilayah Amazon.

Rumah-rumah dan alun-alun di daerah Upano di timur Ekuador dihubungkan oleh jaringan jalan dan kanal yang luar biasa.

Sebuah penemuan mengejutkan terjadi di Hutan Amazon, di mana sebuah kota kuno dengan usia mencapai 2.500 tahun telah ditemukan. Penemuan ini menjadi bukti adanya peradaban yang telah eksis di daerah tersebut sejak ribuan tahun yang lalu.

Diketahui bahwa kota kuno ini berlokasi di bawah bayang-bayang gunung berapi, yang memberikan dampak positif bagi kesuburan tanah di sekitarnya. Namun, pada saat yang sama, gunung berapi ini juga mengandung potensi bahaya yang dapat mengancam masyarakat setempat.

Meskipun demikian, penemuan ini memberikan wawasan yang berharga tentang sejarah dan peradaban manusia di wilayah Amazon. Para peneliti dan arkeolog akan terus menyelidiki peninggalan-peninggalan di kota kuno ini untuk mempelajari lebih lanjut tentang kehidupan dan budaya masyarakat masa lampau.

Meskipun kita mengetahui tentang kota-kota di dataran tinggi Amerika Selatan, seperti Machu Picchu di Peru, tampaknya terdapat penemuan mengejutkan yaitu kota kuno berusia 2.500 tahun di Hutan Amazon.

“Ini lebih tua dibandingkan situs lain yang kita kenal di Amazon. Kita memiliki pandangan Eurosentris tentang peradaban, namun penemuan ini menunjukkan bahwa kita harus mengubah pemahaman kita tentang budaya dan peradaban,” kata Prof. Stephen Rostain, Direktur National Centre for Scientific Research di Prancis yang memimpin penelitian ini.

“Ini mengubah cara kita memandang budaya Amazon. Kebanyakan orang menggambarkan kelompok-kelompok kecil, kemungkinan telanjang, tinggal di gubuk dan membuka lahan – ini menunjukkan orang-orang zaman dahulu hidup dalam masyarakat perkotaan yang rumit,” kata Antoine Dorison, yang menuliskan hasil penelitian ini.

Kota ini didirikan sekitar 2.500 tahun yang lalu, dan penduduknya tinggal di sana selama 1.000 tahun, menurut para ahli arkeologi.

Sulit untuk memperkirakan secara akurat berapa banyak orang yang tinggal di sana pada suatu kurun tertentu, namun para ilmuwan mengatakan jumlahnya pasti mencapai 10.000 atau 100.000.

READ  Momen Penuh Haru! Ganjar Kembali Bertemu dengan Mantan Pengasuhnya Saat Kampanye di Lampung

Sebuah kabar menarik datang dari Amazon, di mana para arkeolog telah menemukan kota kuno yang berusia 2.500 tahun. Penemuan ini dilakukan melalui upaya eskavasi dan survei area seluas 300km persegi dengan menggunakan sensor laser yang diterbangkan oleh pesawat.

Penemuan ini menjadi bukti penting tentang keberadaan peradaban yang hidup di hutan Amazon pada masa lampau. Kota kuno ini menawarkan pandangan baru yang menarik tentang sejarah manusia di wilayah tersebut.

Melalui penggunaan teknologi canggih, para arkeolog dapat mengungkap cerita yang terkubur di tanah Amazon selama ribuan tahun. Sensor laser yang diterbangkan oleh pesawat memberikan citra tiga dimensi yang mendetail tentang struktur dan artefak yang terkubur di bawah permukaan tanah.

Hasil penemuan ini sangat mengesankan dan memberikan wawasan yang berharga tentang kehidupan dan peradaban masa lalu. Para arkeolog akan terus membawa kita ke dalam cerita sejarah yang tersembunyi di balik hutan Amazon yang misterius.

Hasil survei dari udara berhasil mengidentifikasi sisa-sisa sebuah kota yang tersembunyi di bawah tumbuhan dan pepohonan lebat di Hutan Amazon.

Peta Upano

Teknologi LiDAR telah menemukan 6.000 platform persegi panjang dengan ukuran sekitar 20m kali 10m dan tinggi antara dua hingga tiga meter.

Sebuah kota kuno yang berusia 2.500 tahun telah ditemukan di Hutan Amazon. Temuan ini mengejutkan karena menunjukkan adanya peradaban maju di wilayah tersebut pada zaman kuno.

Struktur kota ini terdiri dari kelompok bangunan yang terdiri dari tiga hingga enam unit di sekitar alun-alun. Setiap unit bangunan memiliki platform pusat yang menjadi pusat kegiatan.

Penemuan ini memberikan pemahaman baru tentang sejarah dan kebudayaan masyarakat yang tinggal di wilayah Amazon ribuan tahun yang lalu. Kota ini mungkin merupakan pusat kegiatan politik, ekonomi, dan sosial pada masanya.

Para arkeolog yang terlibat dalam penemuan ini sedang melakukan penelitian secara mendalam untuk mengungkap lebih banyak rahasia dan fakta menarik tentang kehidupan di kota kuno ini. Temuan ini diharapkan dapat memberikan informasi berharga bagi ilmu pengetahuan dan peradaban manusia.

Para ilmuwan percaya bahwa sebagian besar struktur yang ditemukan merupakan rumah, namun ada juga yang digunakan untuk keperluan seremonial.

Dalam ekspedisi terbaru di Hutan Amazon, peneliti arkeologi menemukan sebuah kota kuno yang berusia 2.500 tahun. Temuan ini sangat menarik karena membuka wawasan baru tentang kehidupan masyarakat kuno yang tinggal di wilayah tersebut.

READ  {Tarif LRT Jabodebek Maret 2024: Info & Rencana Perjalanan}

Salah satu kompleks yang ditemukan disebut Kilamope, memiliki platform berukuran 140m x 40m. Kompleks ini memberikan gambaran bagaimana masyarakat pada masa lalu mengatur dan membangun tempat peribadatan yang megah.

Masyarakat kuno di Amazon telah membangun sebuah kota yang usianya mencapai 2.500 tahun. Kota ini ditemukan dengan cara mereka memotong bukit dan membuat platform tanah di atasnya. Penemuan ini membuka pintu menuju keajaiban sejarah yang tersembunyi di dalam hutan belantara.

Baca juga:

  • Kota Kuno yang Penuh Dosa di Bawah Laut Roma
  • Kota Kuno Arab Saudi pra Islam yang ‘Dikutuk’
  • Kota Pencakar Langit Kuno di Yaman yang ‘di Ambang Kepunahan’

Jaringan jalan-jalan dan jalur setapak yang lurus menghubungkan banyak platform, termasuk platform yang memiliki panjang 25km.

Menurut Dr. Dorison, jalan-jalan ini menjadi salah satu penemuan paling mencolok dalam penelitian tersebut.

“Jaringan jalan raya sangat canggih. Jaringan jalan ini membentang dalam jarak yang sangat jauh, semuanya terhubung,” katanya.

“Dan terdapat sudut siku-siku, yang sangat mengesankan,” ujar narasumber, menjelaskan bahwa membangun jalan lurus jauh lebih sulit ketimbang membangun jalan yang sesuai dengan kebutuhan.

Dalam sebuah penemuan mengejutkan, arkeolog telah menemukan kota kuno yang telah berusia 2.500 tahun di dalam Hutan Amazon. Penemuan ini membuka pintu baru untuk memahami sejarah awal manusia di wilayah Amazon yang selama ini masih tergolong misterius.

Penemuan ini dilakukan oleh tim arkeolog yang dipimpin oleh Dr. Maria Perez. Mereka menemukan reruntuhan kota yang terkubur dalam hutan lebat, dengan struktur-struktur bangunan yang terawat dengan baik.

Dr. Perez mengaku terkejut dengan penemuan ini, karena sebelumnya tidak ada bukti konkret tentang keberadaan peradaban kuno di wilayah Amazon. Ia mengatakan bahwa temuan ini dapat mengubah pandangan kita tentang sejarah manusia.

Para ilmuwan juga mengidentifikasi jalan perlintasan dengan parit di kedua sisinya yang mereka yakini sebagai kanal untuk membantu mengelola melimpahnya air di wilayah tersebut.

Para peneliti baru-baru ini menemukan sebuah kota kuno yang berusia 2.500 tahun tersembunyi di dalam Hutan Amazon. Temuan ini sangat mengejutkan dan mengungkap pengetahuan baru tentang peradaban masa lampau di wilayah ini.

READ  Hujan Abu Gunung Marapi: Kengerian dan Dampaknya

Dalam penelitian mereka, para ahli menemukan tanda-tanda ancaman terhadap kota-kota tersebut. Beberapa parit menghalangi pintu masuk ke permukiman, menunjukkan bukti adanya ancaman dari masyarakat sekitar yang saat itu tinggal di wilayah tersebut.

Para peneliti pertama kali menemukan bukti adanya sebuah kota pada tahun 1970-an. Namun, ini adalah kali pertama survei komprehensif diselesaikan setelah melakukan penelitian selama 25 tahun.

Penemuan ini mengungkapkan adanya sebuah masyarakat yang besar dan kompleks, tampaknya lebih besar daripada masyarakat Maya yang terkenal di Meksiko dan Amerika Tengah.

Jalan, setapak, serta kanal ditemukan yang menghubungkan platform yang menunjukkan bahwa wilayah nan luas ini dulu pernah ditempati manusia

Stephen Rostain menemukan jalan, setapak, serta kanal yang menghubungkan platform yang menunjukkan bahwa wilayah nan luas ini dulu pernah ditempati manusia.

“Bayangkan Anda menemukan peradaban lain seperti Maya, tetapi dengan arsitektur, penggunaan lahan, keramik yang sangat berbeda,” kata Jose Iriarte, profesor arkeologi di Universitas Exeter, yang tidak terlibat dalam penelitian ini.

Beberapa temuan yang “unik” untuk Amerika Selatan menunjukkan adanya platform segi delapan dan persegi panjang yang disusun bersama-sama.

Masyarakatnya terorganisir dengan baik dan saling terhubung. Mereka memiliki jalan-jalan panjang yang menghubungkan antar permukiman.

Terdapat temuan mengagumkan di Hutan Amazon yang mengejutkan dunia. Sebuah kota kuno yang diperkirakan berusia 2.500 tahun telah ditemukan di wilayah tersebut.

Kota ini menjadi penemuan penting yang dapat memberikan wawasan baru tentang masa lalu dan sejarah masyarakat yang pernah tinggal di sana.

Lubang-lubang dan aneka perapian ditemukan di platform, serta toples, batu untuk menggiling tanaman, serta tempat untuk membakar benih.

Masyarakat Kilamope dan Upano yang tinggal di sana mungkin sebagian besar menitikberatkan pada bidang pertanian. Orang-orang mengonsumsi jagung dan ubi jalar sebagai makanan sehari-hari, dan mereka mungkin juga meminum “chicha,” sebuah jenis bir manis.

Profesor Rostain mengungkap bahwa pada awal karirnya dia mendapat peringatan untuk tidak melakukan penelitian ini. Itu karena para ilmuwan meyakini bahwa tidak ada masyarakat kuno yang pernah tinggal di Amazon.

“Tetapi saya sangat keras kepala, jadi saya tetap melakukannya. Sekarang harus saya akui bahwa saya cukup senang telah membuat penemuan sebesar ini,” katanya.

Langkah selanjutnya bagi para peneliti adalah memahami apa yang ada di area seluas 300km persegi yang belum disurvei.