Laut Merah Memanas Setelah Serangan Balasan Yaman atas Serangan AS-Inggris

indotim.net (Sabtu, 13 Januari 2024) – Belum selesai agresi militer Israel kepada rakyat Palestina di jalur Gaza, konflik lainnya muncul di Laut Merah. Situasi panas itu melibatkan kelompok Houthi dari Yaman dengan pasukan Amerika Serikat dan Inggris.

Perairan Laut Merah merupakan jalur strategis yang dilewati oleh 12% perdagangan dunia. Pada awal pekan ini, kelompok Houthi melancarkan serangan yang menimbulkan reaksi dari Amerika dan sekutunya.

Serangan koalisi AS-Inggris ke Yaman dilancarkan pada Kamis (11/1) waktu setempat. Mereka menargetkan fasilitas logistik dan sistem radar Houthi, kelompok bersenjata yang disokong Iran tersebut.

Pada serangan militer ini, koalisi AS dan Inggris untuk pertama kalinya menembakkan rudal balistik spesifik mereka. Presiden AS Joe Biden sendiri mengatakan soal penggunaan rudal balistik anti-kapal.

“Untuk pertama kalinya dalam sejarah,” melansir AFP pada Jumat (12/1/2024), AS dan Inggris melancarkan serangan dengan mengerahkan jet-jet tempur, sejumlah kapal perang, dan satu kapal selam untuk menggempur pemberontak Houthi.

Kelompok Houthi Balas Serangan Amerika-Inggris

Kelompok Houthi di Yaman membalas serangan Amerika Serikat dan Inggris dengan meluncurkan sebuah rudal balistik anti-kapal ke Laut Merah pada hari Jumat (12/1) waktu setempat. Serangan ini merupakan pembalasan atas serangan yang sebelumnya dilakukan oleh Amerika Serikat dan Inggris yang menargetkan kelompok pemberontak yang didukung Iran di Yaman.

“Kami mengetahui bahwa sebagai balasan, mereka telah meluncurkan setidaknya satu rudal, namun sayangnya rudal tersebut tidak mengenai satu pun kapal,” ujar Direktur Staf Gabungan Amerika Serikat, Letnan Jenderal Douglas Sims kepada wartawan seperti yang dilaporkan oleh AFP, Sabtu, 13 Januari 2024.

READ  Tingkatkan Kecemasan! 11 Kapal Perang China Terdeteksi Berlayar di Dekat Taiwan

“Retorika mereka cukup kuat dan cukup tinggi. Saya perkirakan mereka akan mencoba melakukan semacam pembalasan,” ujar narasumber tentang Houthi.

Selain itu, Sims juga menyatakan bahwa evaluasi mengenai kerusakan yang diakibatkan oleh serangan Amerika Serikat dan Inggris di Yaman masih terus dilakukan. Serangan tersebut ditargetkan ke hampir 30 lokasi dengan penggunaan lebih dari 150 amunisi. Meskipun demikian, dia menekankan bahwa korban jiwa diperkirakan tidak akan banyak.

“Setiap sasaran yang kami serang tadi malam terkait dengan kekuatan yang digunakan untuk melawan kebebasan navigasi di Laut Merah,” ujar narasumber.

Kelompok Houthi telah meluncurkan serangan drone dan rudal dalam jumlah besar terhadap jalur pelayaran internasional utama yang melintasi Laut Merah setelah pecahnya perang di Gaza. Houthi menyatakan bahwa tindakan mereka adalah sebagai respons terhadap serangan militer Israel di Gaza.

Sejak terjadinya serangan oleh pasukan Amerika Serikat dan Inggris ke Yaman, situasi di Laut Merah semakin memanas. Kelompok pemberontak yang dikenal sebagai Houthi telah berhasil menguasai sebagian besar wilayah Yaman sejak pecahnya perang saudara di negara tersebut pada tahun 2014.

Houthi merupakan anggota dari apa yang disebut “poros perlawanan” yang mendapat dukungan dari Iran dalam melawan Israel. Gerakan ini telah menjadi ancaman serius bagi stabilitas di kawasan tersebut.

Simak selengkapnya di halaman selanjutnya:

Amerika-Inggris Melancarkan Serangan di Ibu Kota Yaman

Pasukan Amerika Serikat dan Inggris kembali melancarkan serangan udara ke ibu kota Yaman, Sanaa pada hari Sabtu (13/1). Serangan baru ini dilakukan sehari setelah kedua negara tersebut melancarkan puluhan serangan udara yang menargetkan kelompok pemberontak Houthi di negara tersebut.

Melalui media resminya, kelompok Houthi yang didukung Iran mengungkapkan bahwa serangan terbaru ini dilancarkan ke pangkalan udara Al-Dailami di Sanaa, yang berada di bawah kendali Houthi sejak tahun 2014.

READ  Meluncur! Rudal Israel Membombardir Area Dekat Pusat Suriah

“Musuh Amerika-Inggris menargetkan ibu kota, Sanaa, dengan sejumlah serangan,” tulis media resmi Houthi, Al-Masirah TV di X, sebelumnya Twitter, mengutip korespondennya di Sanaa.

“Agresi Amerika-Inggris menargetkan pangkalan Al-Dailami di ibu kota, Sanaa,” tambahnya, dilansir kantor berita AFP, Sabtu (13/1/2024).

Militer Amerika Serikat (AS) telah mengonfirmasi serangan tersebut. Pada Jumat (12/1) malam waktu setempat, militer AS melancarkan serangan baru terhadap kelompok pemberontak Houthi di Yaman.

“Pasukan AS melancarkan serangan terhadap sebuah lokasi radar Houthi di Yaman” sekitar pukul 03.45 waktu setempat pada hari Sabtu, demikian pernyataan yang dikeluarkan oleh Komando Pusat AS.

Serangan yang dilakukan merupakan “tindakan berlanjut terhadap sasaran militer tertentu” yang terkait dengan serangan yang terjadi pada hari sebelumnya, seperti yang disebutkan dalam pernyataan tersebut.

Kesimpulan

Situasi panas di Laut Merah semakin memanas setelah serangan balasan Yaman atas serangan Amerika Serikat dan Inggris. Kelompok Houthi dari Yaman meluncurkan serangan rudal balistik anti-kapal sebagai pembalasan terhadap serangan yang mereka terima sebelumnya. Konflik ini menambah ketegangan di kawasan strategis yang memiliki jalur perdagangan dunia. Houthi yang didukung Iran telah menguasai sebagian besar wilayah Yaman, menjadi ancaman serius bagi stabilitas di kawasan tersebut. Serangan balasan ini juga menjadi tindak lanjut serangan udara Amerika Serikat dan Inggris yang dilancarkan di ibu kota Yaman, Sanaa. Ketegangan antara kelompok Houthi, Amerika Serikat, dan Inggris masih berlanjut dan dapat berdampak pada situasi di Laut Merah.