Apa yang Mendorong Petani Eropa untuk Berdemonstrasi di Jalanan?

indotim.net (Sabtu, 13 Januari 2024) – Jerman menjadi negara berikutnya di Eropa yang dilanda gelombang protes besar-besaran para petani. Dalam aksi protes selama sepekan hingga Jumat (12/10), sektor pertanian menentang rencana pemotongan subsidi bahan bakar yang akan diterapkan di sektor pertanian.

Konvoi ribuan traktor dan truk menyebabkan kekacauan lalu lintas dan menghambat aktivitas di sejumlah kota besar. Di kota Emden, Jerman utara, produksi di fasilitas pabrik mobil Volkswagen terhenti sepenuhnya.

Gelombang Protes Petani di Seluruh Eropa

Gelombang protes petani juga mencuat di negara-negara anggota Uni Eropa lainnya. Di Belanda, demonstrasi petani bahkan berujung pada tindakan kekerasan dan serangan terhadap privasi para politisi, yang mengakibatkan gangguan pada kehidupan sehari-hari. Gerakan protes petani di Belanda bahkan mendorong terbentuknya partai politik baru yang berhaluan populis kanan, yaitu Gerakan Warga Petani (Farmer Citizen Movement/BBB) pada tahun 2019.

Para petani di Belgia, Spanyol, dan Prancis juga turut menggelar aksi protes besar-besaran di jalanan sebagai bentuk penyaluran ketidakpuasan mereka terhadap rencana reformasi regulasi lingkungan dan kenaikan biaya produksi.

Di beberapa negara Eropa Timur, termasuk Polandia, terjadi gejolak yang serupa. Namun, pemicunya berbeda. Para petani di sana tengah melakukan protes terhadap kebijakan Uni Eropa yang mencabut larangan impor gandum murah dari Ukraina.

Jan Douwe van der Ploeg, seorang pakar sosiologi pertanian dan guru besar emeritus dari Universitas Wageningen di Belanda, melihat adanya kesamaan alasan di balik aksi protes para petani Eropa tersebut: mempertahankan status quo.

“Kecemasan petani mencakup hak untuk terus menggunakan subsidi yang mereka terima sepanjang sejarah atau untuk tetap melanjutkan penggunaan bahan bakar fosil dan pestisida,” ujar van der Ploeg kepada DW.

Apa Keluhan para Petani?

Aksi protes yang dilakukan oleh para petani dapat disebabkan oleh ketidakpuasan mereka terhadap kebijakan politik. Namun, pemicunya bervariasi di setiap negara. Di Jerman, protes dipicu oleh rencana penghapusan subsidi diesel untuk pertanian. Sementara itu, di Spanyol, protes berkaitan dengan regulasi penghematan air. Di Prancis, protes dipicu oleh kenaikan biaya irigasi dan bahan bakar fosil, serta kebijakan perdagangan dalam Uni Eropa.

READ  Hanan Supangkat Diperiksa KPK Sebagai Saksi TPPU SYL: Mengungkap Permintaan Uang Tak Wajar

Tak dapat disangkal, setelah invasi Rusia ke Ukraina, harga pupuk dan bahan bakar meroket. Petani di seluruh Eropa merasa ditekan dan terbebani saat melihat harga bahan makanan yang semakin mahal di supermarket.

Menurut Anne-Kathrin Meister dari Federasi Generasi Muda Pedesaan Jerman (BDL), pendapatan dari sektor pertanian tidak lagi mampu menutupi peningkatan biaya produksi. “Jika kita membandingkan peningkatan harga mesin, pestisida, dan pupuk saja, pendapatan tidak pernah meningkat dengan kecepatan yang sama dengan kenaikan harga tersebut,” ujar Meister yang berasal dari keluarga petani di kawasan Bayern di selatan Jerman, saat diwawancarai oleh DW melalui telepon.

“Sektor pertanian tidak menentang reformasi lingkungan, tapi juga mereka memerlukan dukungan,” tegas Meister. “Petani menjadi yang pertama terdampak, jika flora dan fauna mengalami kerusakan. Tapi ongkos lingkungan juga harus ikut dihitung pada harga produk, dan konsumen harus siap membayarnya,” tambah aktivis muda pedesaan itu.

Target Iklim Terancam?

Aksi protes para petani Eropa ini menjadi perhatian serius oleh kepala Uni Eropa di Brussels. Para pemimpin Uni Eropa khususnya khawatir bahwa target ambisius tentang iklim yang telah disahkan sebagai undang-undang oleh Komisi Eropa akan mengalami kemunduran. Uni Eropa memiliki target untuk mencapai nol emisi hingga tahun 2050. Selain itu, dalam sektor pertanian, terdapat juga rencana pengurangan penggunaan pestisida kimia sebesar 50% pada tahun 2030.

Seiring dengan mendekatnya pemilu Uni Eropa yang akan diselenggarakan pada bulan Juni mendatang, kekhawatiran meningkat bahwa rencana ambisius tersebut akan terancam jika Parlemen Eropa bergeser ke arah kanan.

Marco Contiero, seorang aktivis kampanye iklim Greenpeace di Uni Eropa, mengungkapkan bahwa risiko ini terlihat jelas ketika membahas undang-undang pemulihan alam. Undang-undang ini disetujui dengan mayoritas suara tipis oleh Parlemen Eropa tahun lalu, meskipun adanya penentangan yang digerakkan oleh European People’s Party yang berhaluan kanan-tengah. Partai ini mengklaim mewakili kepentingan petani yang menentang rencana konservasi lahan pertanian untuk menjaga habitat alami.

“Antara tahun 2005 hingga 2020, sekitar 5,3 juta pertanian di Uni Eropa bangkrut dan tutup, mayoritasnya pertanian kecil,” ujar Contiero mengutip angka lembaga statistik Uni Eropa Eurostat.

READ  Perjalanan Taiwan-China di Bawah Pemimpin Baru: Kemana Arahnya?

“Sebanyak sepertiga dari seluruh petani di Eropa menghadapi masalah keuangan yang merugikan mereka,” ungkap Contiero. Hal ini menunjukkan bahwa membela sistem yang sedang berlangsung saat ini seolah-olah membela petani hanyalah suatu pembohongan belaka.

Aksi protes oleh para petani di Eropa memiliki sejarah yang panjang. Menurut sosiolog pertanian van der Ploeg kepada DW, “Selama abad ke-20 terdapat beberapa gelombang protes besar dari petani, termasuk yang ditandai dengan kekerasan.” Pada masa lalu, aksi protes ini lebih banyak dilakukan oleh petani kecil. Namun, saat ini, terlibat paling tidak di Belanda, banyak petani besar yang ikut serta, mewakili kepentingan agrobisnis.

(as/hp)

Petani di Eropa semakin banyak yang berdemonstrasi di jalanan. Aksi protes tersebut dipicu oleh sejumlah masalah yang dihadapi oleh para petani di benua tersebut. Salah satu masalah yang menjadi pemicu utama adalah ketidakpuasan terhadap kebijakan pertanian yang dirasa merugikan mereka.

Banyak petani menganggap bahwa kebijakan pertanian yang diterapkan oleh pemerintah atau Uni Eropa cenderung menguntungkan korporasi besar dan mengabaikan kepentingan petani kecil. Mereka mengeluhkan adanya kebijakan yang membatasi subsidi pertanian, kesulitan akses ke pasar internasional, serta persaingan yang tidak seimbang dengan importasi produk pertanian dari luar Eropa.

Selain itu, perubahan iklim juga menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi kondisi petani di Eropa. Perubahan cuaca yang ekstrem, seperti musim panas yang terlalu panas atau musim hujan yang tak teratur, mengakibatkan penurunan hasil panen dan kerugian finansial bagi petani. Para petani merasa bahwa pemerintah dan institusi terkait belum melakukan langkah yang efektif untuk mengatasi dampak perubahan iklim ini.

Dalam beberapa tahun terakhir, harga komoditas pertanian yang tidak stabil juga menjadi masalah yang dihadapi oleh petani di Eropa. Fluktuasi harga berdampak negatif pada pendapatan petani dan membuat mereka kesulitan dalam mengelola usaha pertanian mereka. Hal ini menyebabkan frustrasi di kalangan petani dan mendorong mereka untuk mengorganisir protes demi menuntut perubahan kebijakan pertanian yang lebih adil.

Penyebab lain dari meningkatnya demonstrasi petani di Eropa adalah kekhawatiran terkait penurunan populasi petani muda dan kesulitan dalam mendapatkan tenaga kerja. Banyak petani tua yang mengalami kesulitan mencari pengganti yang mampu mengelola usaha mereka secara berkelanjutan. Ini mengakibatkan petani muda lebih enggan untuk meneruskan tradisi pertanian keluarga mereka, sehingga membawa dampak negatif pada masa depan pertanian di Eropa.

READ  Gaza, Ukraina, dan Dunia Kecerdasan Buatan (AI) Mendominasi Davos 2024

Secara keseluruhan, meningkatnya demonstrasi petani di Eropa berkaitan dengan sejumlah masalah penting yang dihadapi oleh mereka, seperti kebijakan pertanian yang tidak adil, perubahan iklim, fluktuasi harga komoditas, dan kekhawatiran terkait generasi petani masa depan. Dalam upaya menuju solusi yang lebih baik, penting bagi pemerintah dan pihak terkait untuk mendengarkan dan merespons tuntutan para petani agar pertanian di Eropa dapat berkelanjutan dan adil bagi semua pihak terkait.

Jangan lewatkan konten-konten eksklusif berbahasa Indonesia dari DW. Ayo berlangganan gratis newsletter mingguan Wednesday Bite. Recharge pengetahuanmu di tengah minggu, biar topik obrolan makin seru!

Penyebab meningkatnya jumlah petani Eropa yang berdemonstrasi di jalanan memiliki banyak faktor. Salah satunya adalah kebijakan-kebijakan pemerintah dan lembaga keuangan yang kurang menguntungkan para petani. Selain itu, banyak petani yang menghadapi tekanan ekonomi yang berat akibat harga yang terus turun dan biaya produksi yang tinggi.

Situasi ini diperburuk dengan adanya persaingan yang ketat dari produk pertanian impor yang dijual dengan harga lebih murah dan subsisidinya yang tinggi. Para petani merasa bahwa mereka tidak mampu bersaing secara adil dan merugi dalam konteks ini.

Faktor yang lain adalah pembatasan dalam regulasi lingkungan yang diterapkan pada sektor pertanian. Petani dihadapkan pada kebijakan yang membatasi penggunaan pestisida dan pupuk kimia. Meskipun ada alasan lingkungan yang kuat dalam penyusunan aturan ini, petani merasa kesulitan dalam mencapai hasil panen yang optimal.

Tuntutan para petani juga berkaitan dengan perubahan iklim yang semakin tidak stabil. Perubahan cuaca yang ekstrem dapat menyebabkan gagal panen dan kerugian finansial bagi petani. Mereka merasa perlu ada kebijakan yang lebih baik dalam penanganan dampak perubahan iklim bagi sektor pertanian.

Untuk menunjukkan keprihatinan mereka, petani Eropa sering melakukan demonstrasi di jalanan sebagai bentuk protes terhadap kondisi yang mereka hadapi. Mereka berharap pemerintah dan lembaga terkait dapat mendengarkan dan mengambil tindakan yang lebih baik demi kesejahteraan para petani dan keberlanjutan sektor pertanian di Eropa.