Serangan AS-Inggris ke Houthi di Yaman: Strategi Rahasia di Balik Geger Dunia Internasional?

indotim.net (Sabtu, 13 Januari 2024) – Amerika Serikat (AS) dan Inggris telah melancarkan serangan udara terhadap sejumlah basis Houthi di Yaman. Serangan ini dilakukan dengan tujuan untuk menghalau kelompok pemberontak Houthi yang didukung Iran agar tidak menyerang kapal-kapal kargo yang melintasi Laut Merah.

Serangan tersebut mendapat dukungan dari sejumlah sekutu dari AS dan Inggris.

Rudal ditembakkan pada Kamis (11/01) malam hingga Jumat (12/01), menghantam puluhan lokasi yang menyebabkan sejumlah korban.

Kelompok Houthi menyatakan bahwa mereka tidak tergoyahkan oleh serangan-serangan tersebut. Namun, Amerika Serikat berpendapat bahwa serangan tersebut telah merusak kemampuan militer kelompok pemberontak tersebut.

Peristiwa ini telah menimbulkan banyak pertanyaan dan spekulasi. Di balik serangan tersebut, sepertinya terdapat strategi yang rumit yang perlu dipahami.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa Yaman telah menjadi medan perang bagi kekuatan regional dan internasional. Konflik di Yaman melibatkan berbagai pihak dengan kepentingan yang beragam. Salah satu aktor utama dalam konflik ini adalah Houthi, gerakan pemberontak Syiah yang telah mengendalikan sebagian besar wilayah utara Yaman, termasuk ibu kota Sanaa.

Namun, kehadiran AS dan Inggris dalam konflik ini merupakan hal yang menarik. Meskipun mereka bukanlah pihak secara langsung terlibat dalam pertempuran, serangan terhadap Houthi menunjukkan ada kepentingan strategis di baliknya.

Berbagai spekulasi telah muncul tentang strategi yang mungkin dijalankan oleh AS dan Inggris melalui serangan ini. Salah satu kemungkinan adalah untuk membatasi pengaruh Iran di Yaman. Houthi didukung oleh Iran, dan kehadiran mereka di Yaman dianggap sebagai ancaman bagi kepentingan regional AS dan Inggris.

Selain itu, strategi AS dan Inggris juga mungkin bertujuan untuk menjaga stabilitas di kawasan Teluk. Yaman terletak di jalur strategis untuk transportasi minyak dan merupakan negara penting bagi kestabilan pasokan energi dunia. Oleh karena itu, kontrol terhadap Yaman atau membatasi pengaruh pihak yang tidak diinginkan di sana menjadi penting dalam menjaga kepentingan energi mereka.

Tentu saja, terdapat banyak faktor yang harus dipertimbangkan dalam strategi ini. Konsekuensi dan dampaknya terhadap rakyat Yaman juga menjadi perhatian utama. Konflik yang berkepanjangan telah menimbulkan bencana kemanusiaan di Yaman, dengan jutaan orang mengalami krisis makanan dan kesehatan.

Oleh karena itu, dalam mengkaji strategi di balik serangan AS-Inggris ke Houthi di Yaman, hal penting yang harus diingat adalah perlunya pendekatan yang komprehensif dan berkelanjutan untuk mencapai perdamaian dan stabilitas di negara ini.

Apa sasaran serangan AS dan Inggris?

AS mengklaim telah “melakukan serangan yang disengaja terhadap lebih dari 60 sasaran di 16 lokasi milisi Houthi yang didukung Iran”.

Pada serangan terbaru di Yaman, Amerika Serikat dan Inggris menargetkan berbagai infrastruktur Houthi. Menurut Pentagon, target serangan meliputi sistem radar, tempat penyimpanan dan peluncuran drone, fasilitas penyimpanan dan peluncuran rudal, serta pusat komando dan kendali Houthi.

Serangan dilaporkan terjadi di ibu kota Yaman, Sanaa yang dikuasai pemberontak Houthi serta pelabuhan Houthi di Hodeidah, Dhamar, dan markas kelompok tersebut di barat laut Saada.

Serangan yang dilakukan oleh Inggris di Yaman, tepatnya di Bani yang terletak di barat laut Yaman, diduga dilakukan sebagai respons terhadap peluncuran rudal dan drone yang berasal dari lokasi tersebut, menurut Kementerian Pertahanan Inggris.

READ  KPK Mengakui Pungli di Rutan dan Janji Perbaikan Sistem

Terjadi 72 serangan secara keseluruhan, demikian disampaikan oleh juru bicara militer Houthi. Serangan ini menjadi perhatian utama di tengah konflik yang sedang berkecamuk di Yaman.

Serangan AS dan Inggris terhadap Houthi Sebuah serangan rudal diluncurkan dari kapal perang sebagai bagian dari operasi koalisi pimpinan AS yang bertujuan menyerang sasaran militer di Yaman pada tanggal 12 Januari 2024 (Reuters).

Apakah ada korban dari serangan ini?

Juru bicara Houthi mengungkapkan bahwa lima anggotanya tewas akibat serangan dari AS dan Inggris, sementara enam orang lainnya mengalami luka-luka.

Pemerintah AS dan Inggris baru-baru ini melancarkan serangan terhadap kelompok Houthi di Yaman. Serangan ini menuai kontroversi dan banyak pertanyaan mengenai strategi di balik tindakan ini.

Pihak Pentagon mengklaim bahwa serangan tersebut tidak ditujukan kepada warga sipil, melainkan target militer menggunakan “senjata presisi”. Namun, serangan ini tetap menuai kritik karena dampaknya terhadap rakyat Yaman yang sudah terlalu lama terperangkap dalam konflik ini.

Beberapa analis menduga bahwa strategi di balik serangan ini adalah untuk memperkuat posisi AS-Inggris dalam konflik regional yang terjadi di Yaman. Dengan merusak infrastruktur Houthi, AS-Inggris berharap dapat melemahkan kelompok tersebut dan mendukung pihak yang lebih pro-Barat dalam konflik ini.

Namun, ada juga yang berpendapat bahwa serangan ini hanya akan memperpanjang konflik dan menderita korban lebih banyak lagi. Dalam situasi yang sudah sangat kompleks dan tragis, serangan semacam ini dapat memperburuk keadaan dan menghambat upaya perdamaian yang sedang dirintis.

Meskipun tujuan serangan ini masih diperdebatkan, yang jelas adalah Yaman dan rakyatnya terus menderita akibat konflik yang berkepanjangan. Diperlukan upaya nyata dari semua pihak terlibat untuk mengakhiri kekerasan dan memulihkan perdamaian di negeri ini yang sudah terlalu lama dilanda konflik.

Laut MerahBBC

Pada hari Rabu, 16 Juni 2022, Amerika Serikat (AS) dan Inggris melakukan serangan udara terhadap milisi Houthi di Yaman. Serangan ini mengejutkan banyak pihak dan menimbulkan kekhawatiran akan eskalasi konflik di wilayah tersebut.

Serangan tersebut dilakukan dalam rangka memberikan “sinyal keras” kepada kelompok Houthi setelah serangkaian serangan rudal yang mereka lakukan terhadap Saudi Arabia. Houthi telah dituduh melakukan serangan-serangan tersebut dengan dukungan Iran.

Bagaimana strategi AS-Inggris di balik serangan ini?

Pertama, serangan ini dimaksudkan untuk mengirim pesan tegas kepada Houthi dan Iran bahwa serangan-serangan mereka tidak akan ditoleransi. AS dan Inggris ingin menunjukkan bahwa mereka siap menggunakan kekuatan militer untuk melindungi kepentingan mereka dan sekutu mereka di wilayah Teluk.

Kedua, serangan ini juga dapat dianggap sebagai upaya untuk mengurangi eskalasi konflik di wilayah tersebut. Dengan memberikan tekanan kepada Houthi melalui serangan udara, AS dan Inggris berharap dapat mendorong mereka untuk kembali ke meja perundingan dan mencari solusi politik untuk konflik di Yaman.

Namun, tindakan ini juga memiliki risiko tersendiri. Serangan semacam ini dapat memicu reaksi balik dari pihak Houthi dan Iran, yang dapat memperparah konflik di wilayah Teluk. Oleh karena itu, AS dan Inggris juga harus mempertimbangkan konsekuensi dari serangan ini dan memastikan bahwa langkah-langkah lanjutan yang diambil tetap berada dalam batas-batas yang dapat diterima.

Sementara itu, pihak-pihak lain seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan negara-negara Eropa telah mengimbau semua pihak untuk menahan diri dan berupaya mencari solusi damai terhadap konflik di Yaman. Mereka menekankan pentingnya menghindari eskalasi kekerasan yang dapat mengancam kestabilan wilayah tersebut.

READ  5 Fakta Serangan Amerika Serikat dan Inggris di Yaman yang Mengejutkan

Situasi di Yaman masih terus berkembang, dan akan membutuhkan upaya yang sungguh-sungguh untuk mencapai perdamaian yang berkelanjutan. Tindakan serangan seperti yang dilakukan AS-Inggris ini bisa menjadi alat dalam upaya untuk meredakan konflik dan mencari solusi politik yang dapat mengakhiri penderitaan rakyat Yaman yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun.

Apa strategi di balik serangan ini?

Presiden AS Joe Biden menyatakan bahwa dia tidak akan ragu untuk mengambil tindakan militer lebih lanjut jika diperlukan. Namun, AS juga telah menegaskan bahwa mereka tidak ingin melihat konflik yang semakin meluas di Timur Tengah.

Keputusan untuk melakukan serangan oleh AS dan Inggris terhadap kelompok Houthi di Yaman telah menimbulkan kehebohan di dunia internasional. Serangan ini menimbulkan pertanyaan tentang strategi yang mendasarinya.

Hal ini menunjukkan bahwa tindakan militer yang dipimpin oleh AS di masa depan, jika memang diperlukan, akan dibatasi dan direncanakan dengan matang. Serangan ini ditujukan untuk menghancurkan kekuatan Houthi yang diyakini menjadi ancaman keamanan bagi kawasan tersebut.

Adanya serangan ini juga dikaitkan dengan upaya untuk memulihkan stabilitas di Yaman yang telah lama dilanda konflik. Strategi yang diterapkan oleh AS dan Inggris mungkin termasuk penggunaan tenaga udara dan dukungan logistik untuk memastikan keberhasilan misi ini.

Bagaimanapun, tindakan militer seperti ini selalu memiliki dampak yang kompleks dan terkadang sulit diprediksi. Oleh karena itu, penting bagi semua pihak terlibat untuk mempertimbangkan konsekuensi yang mungkin timbul dari serangan ini.

Situasi di Yaman semakin memanas setelah terjadinya serangan udara dan rudal jelajah jarak jauh oleh Amerika Serikat (AS) dan Inggris terhadap kelompok Houthi. Tindakan ini mengundang perhatian banyak pihak, termasuk pertanyaan mengenai strategi apa yang melatarbelakangi serangan tersebut.

Baca juga:

Pada saat yang sama, AS dan Inggris dilaporkan melakukan bombardir di wilayah Yaman sebagai tanggapan atas serangan yang dilakukan oleh pemberontak Houthi terhadap kapal-kapal di Laut Merah. Serangan ini menimbulkan kekhawatiran internasional mengenai eskalasi konflik di wilayah tersebut.

Pemberontak Houthi merupakan kelompok bersenjata yang beroperasi di Yaman. Mereka telah lama berkonflik dengan pemerintah Yaman yang didukung oleh koalisi pimpinan Arab Saudi. Serangan mereka terhadap kapal-kapal kargo yang menuju Israel dikaitkan dengan aspirasi politik mereka dan konflik regional yang lebih luas.

Perlu diingat bahwa AS sebelumnya telah melancarkan serangan udara terbatas untuk menargetkan kelompok-kelompok lain yang memiliki hubungan dengan Iran, baik di Irak maupun Suriah. Tindakan ini merupakan bagian dari strategi mereka dalam membatasi pengaruh Iran di wilayah tersebut.

Tetapi yang terbaik adalah pencegahan. Ini tidak akan menghilangkan ancaman tersebut.

Serangan yang terjadi pada Jumat (12/01) kemungkinan telah menurunkan dan menghancurkan sebagian kemampuan Houthi dalam melancarkan serangan terhadap kapal-kapal di Laut Merah.

Namun kelompok Houthi mampu bertahan dalam keadaan yang jauh lebih buruk, termasuk bertahun-tahun menjadi sasaran Angkatan Udara Saudi.

Setidaknya di depan publik, mereka tetap tak tergoyahkan. Mereka masih punya kemampuan untuk melancarkan serangan lebih lanjut.

Saat ini, satu-satunya pilihan yang tersisa bagi AS dan Inggris dalam menghadapi situasi di Yaman adalah melancarkan serangan dari jarak jauh.

AS menghadapi situasi yang rumit dalam menyikapi konflik di Yaman. Baru-baru ini, mereka melakukan serangan langsung terhadap kelompok Houthi di wilayah tersebut. Serangan ini menimbulkan pertanyaan tentang strategi yang dijalankan oleh AS dan Inggris.

READ  KPK Memanggil Pengacara Soesilo Aribowo Terkait Kasus Gazalba Saleh: Perlukah Penegakan Hukum?

Senjata Apa yang Digunakan Amerika dan Inggris?

Sebagian besar serangan berasal dari pesawat jet milik Amerika Serikat. AS juga memiliki kapal induk yang beroperasi di Laut Merah dan pangkalan udara di wilayah tersebut.

Kapal perang Angkatan Laut AS telah meluncurkan serangan menggunakan rudal jelajah darat Tomahawk yang dipandu GPS, demikian disampaikan oleh militer AS.

Meskipun tidak ada angka spesifik yang diberikan mengenai berapa banyak rudal yang ditembakkan, AS mengatakan lebih dari 100 amunisi berpemandu presisi “dari berbagai jenis” digunakan.

Lalu lintas Laut Merah

Sementara itu, Inggris mengatakan pihaknya telah mengirim empat jet Typhoon dari Siprus yang membawa bom berpemandu Paveway IV. Namun, belum diumumkan jumlah bom yang ditembakkan.

Terjadi kehebohan ketika Amerika Serikat dan Inggris dilaporkan melakukan serangan terhadap kelompok pemberontak Houthi di Yaman. Namun, meskipun Angkatan Laut Kerajaan Inggris memiliki dua kapal perang di Laut Merah, keduanya tidak dapat menembakkan rudal serangan darat sehingga tidak terlibat langsung dalam serangan tersebut.

Bagaimana reaksi kelompok Houthi?

Menanggapi serangan hari Jumat, pemimpin Houthi Mohammed al-Bukhaiti mengatakan AS dan Inggris akan “segera menyadari” tindakan tersebut adalah “kebodohan terbesar dalam sejarah mereka”.

“Amerika dan Inggris melakukan kesalahan dalam melancarkan perang terhadap Yaman karena mereka tidak belajar dari pengalaman mereka sebelumnya,” tulisnya di media sosial.

Dalam potongan artikel sebelumnya, disebutkan bahwa “setiap individu di dunia ini dihadapkan pada dua pilihan berdiri bersama para korban genosida atau membela para pelakunya.”

Juru bicara lain dari kelompok tersebut menegaskan bahwa Amerika dan Inggris keliru jika berpikir bahwa mereka dapat menghalangi dukungan Yaman terhadap Palestina.

Iran, yang mendukung Houthi, mengecam serangan terhadap Yaman sebagai “pelanggaran nyata terhadap kedaulatan dan integritas wilayah Yaman” dan juga melanggar hukum internasional.

Posisi Houthi dalam serangan di Laut Merah adalah mereka mencegah kapal-kapal yang berafiliasi dengan Israel melintasi rute tersebut sebagai imbas dari apa yang terjadi di Gaza.

Mereka sebelumnya menyatakan bahwa kapal mana pun yang menuju ke Israel atau memiliki hubungan dengan Israel adalah “target yang sah”. Namun, banyak kapal komersial yang menjadi sasaran tampaknya tidak memiliki hubungan tersebut.

Bagaimana Biden dan Sunak membenarkan serangan tersebut?

Biden menjelaskan bahwa serangan tersebut merupakan “respons langsung” terhadap serangan Houthi yang terjadi di Laut Merah.

“Serangan-serangan ini telah membahayakan personel AS, pelaut sipil, dan mitra kami, membahayakan perdagangan, dan mengancam kebebasan navigasi,” ujar juru bicara militer.

Perdana Menteri Inggris Rishi Sunak menambahkan bahwa tindakan tersebut “perlu dan proporsional” untuk melindungi pelayaran global.

Meskipun telah ada peringatan yang berulang kali dari komunitas internasional, Houthi tetap melancarkan serangan di Laut Merah, termasuk terhadap kapal perang Inggris dan AS pada pekan ini,” ujar sumber yang tidak ingin disebutkan namanya.

“Ini tidak bisa dibiarkan.”

Rute pelayaran alternatif

Serangan Amerika Serikat dan Inggris yang didukung oleh koalisi Australia, Bahrain, Kanada, Denmark, Jerman, Belanda, Selandia Baru, dan Korea Selatan telah menciptakan kehebohan di Yaman. Serangan tersebut memiliki tujuan dan strategi yang terencana dengan matang.

Dalam sebuah pernyataan, sekutu mengatakan serangan multilateral dilakukan “sesuai dengan hak yang melekat pada pertahanan diri individu dan kolektif”.

“Serangan presisi ini dimaksudkan untuk mengganggu dan menurunkan kemampuan yang digunakan Houthi untuk mengancam perdagangan global dan kehidupan pelaut internasional di salah satu jalur perairan paling penting di dunia,” ujar pernyataan tersebut.