Review Pupuk Eco Farming Untuk Sawit dan Beberapa Tanaman Lainnya Serta Cara Mendaftarnya

By | Juni 29, 2022

Empat tahun ke belakang sekitar tahun 2018, muncul di jagat pertanian Indonesia sebuah pupuk karya anak bangsa. Perlahan tapi pasti, geliat konsumsi pupuk ini terbilang sukses. Tehnik pemasaran produk ini pun sedikit berbeda dengan pupuk yang telah ada hari ini. Dengan ke-agen-an, salah satu sistem pemasarannya.

Pupuk ini adalah hasil penelitian ahli pertanian lebih dari 17 tahun, yakni pupuk organik Eco Farming. Eco Farming artinya suatu sistem pertanian ramah lingkungan dengan tujuan memperoleh hasil maksimal di mana memanfaatkan bahan-bahan yang dianggap limbah sebagai media pertaniannya.

Pupuk organik Eco Farming atau EF merupakan pupuk organik super aktif yang mengandung bakteri positif (pengurai) sebagai bio aktivator bahan organik dalam tanah sehingga terjadi proses restorasi hara dalam tanah.

Dan juga tak kalah penting, Eco Farming juga bisa diaplikasikan pada berbagai macam tanaman. Mulai dari sawit, karet, padi, singkong, cabe, alpukat, bawang-bawangan, dan tanaman buah lainnya.

Daftar Eco Farming

Eco Farming yang disebutkan adalah Eco Farming produk PT BEST (Bandung Eco Sinergi Teknologi). Sebagaimana disinggung sedikit di atas, pemasaran produk Eco Farming sedikit berbeda dengan produk-produk pupuk yang ada. Untuk bisa menjual atau mendapatkan Eco Farming, Anda diminta untuk mendaftar atau registrasi terlebih dahulu. Pendaftaran bisa diakses melalui website Eco Farming, dan akan dibimbing terkait penjualannya alias support after salesnya.

Kegunaan pupuk Eco Farming:

  1. Menggemburkan tanah karena proses restorasi hara sebagai dampak dari bio aktivator.
  2. Menyediakan suplai hara yang dibutuhkan tanaman.
  3. Bakteri di dalam Eco Farming memicu aktifnya mikro organisme dalam tanah.
  4. Membuat tanah dengan kadar pH asam atau basa menjadi netral.
  5. Memperkaya unsur hara tanah.

Kandungan Pupuk Eco Farming

Hampir mirip dengan EM4, kandungan di dalam Eco Farming mengandung sebagian besar hara yang dibutuhkan tanaman, yakni;

Unsur hara makro:

  • N (Nitrogen)
  • P (Phospor)
  • K (Kalium)

Unsur hara sekunder:

  • S (Sulfur)
  • Ca (Kalsium)
  • Mg (Magnesium)

Unsur hara mikro:

  • Cl (Klorin)
  • Mn (Manganese)
  • Fe (Ferrum)
  • Cu (Cuprum)
  • Zn (Zinc)
  • B (Boron)
  • Mo (Molibdenum)

Setiap 1 botol Eco Farming memiliki berat 30 gram.

Kandungan bakteri Eco Farming

Selain mengandung unsur hara, Eco Farming juga mengandung bakteri. Di sinilah kelebihan pupuk Eco Farming dibandingkan dengan pupuk-pupuk organik lainnya. Dalam setiap 100 ml Eco Farming mengandung 15 miliar mikroba aktif.

Cara mengaplikasikan Eco Farming

Cara menggunakannya adalah dengan:

  • Mencampur air tanah atau sumur terlebih dahulu.
  • 1 botol Eco Farming bisa dicampur dengan 1 liter air untuk membuatnya menjadi biang.
  • Diamkan selama kurang lebih 15 menit.
  • Gunakan sekitar 50 ml dari 1 liter biang tadi, kemudain campur dengan air 17 liter di dalam hand sprayer jika penggunaanya dengan cara menyemprot.
READ  Mari Kita Ketahui Lebih Banyak Tentang Jenis Pestisida

Takaran Eco Farming

Apabila tadi sudah membuat biang, maka kita bisa menemukan perhitungan takaran penggunaannya.

Jika kita menggunakan 50 ml biang dicampur dengan 17 liter air hand sprayer, maka 1 liter biang akan menghasilkan 20 tangki hand sprayer. Begini hitungan mudahnya;

1 botol Eco Farming = 1 liter biang = 1000 ml.

Tiap 50 ml => 17 liter (1 tangki hand sprayer).

1000 ml : 50 ml = 20 tangki hand sprayer.

Apabila setiap 1 hektar membutuhkan 13 hingga 14 tangki tiap pengaplikasian, maka penggunaan 1 botol Eco Farming bisa untuk 1 hektar, bahkan masih ada sisa 5 tangki hand sprayer.

Campuran Eco Farming

Selain menggunakan campuran air sumur atau tanah, ternyata Eco Farming bisa juga dicampur dengan air kelapa. Dan hal ini telah dibuktikan. Hasilnya pun cukup luar biasa memberikan dampak. Cara membuat biangnya pun sama, hanya beda campuran dan masa (lama) pendiaman, yakni diamkan selama 3 hari.

Cara membuat biang Eco Farming

  • 1 tabung Eco Farming padat dengan berat 30 gr dilarutkan ke dalam air sumur atau tanah volume 1 liter.
  • Aduk-aduk campuran Eco Farming hingga tercampur sempurna.
  • Diamkan campuran selama 15 menit. Semakin lama mendiamkan maka akan semakin bagus. Anda juga bisa mengubah bahan campuran dari air sumur dengan air kelapa, dengan proses pendiaman selama 3 hari.

Cara penyemprotan Eco Farming

Penyemprotan yang dimaksud adalah penyemprotan pada tanah. Penyemprotan pertama Eco Farming dimaksudkan pemberian nutrisi 13 unsur hara pada tanah sebagai media tanam. Mengusir hama tanah, merestorasi, dan mengurai tanah sehingga suplai akan hara sudah tersedia jika hendak ditanami tanaman.  Langkah selanjutnya adalah;

  • Ambil 60 ml biang dicampur dengan air 20 liter untuk 1 tangkinya. Lebih bagus lagi jika 100 ml dicampur dengan 20 liter air. Untuk ukuran 100 bata maka dibutuhkan 10 tangki.
  • 5 hari sebelum tanam, semprotkan air yang sudah dicampur tadi.
  • Waktu terbaik menyemprot adalah pagi hari, maksimal jam 09.00 pagi atau sore jam 16.30.

Untuk panduan lengkap penyemprotan bisa lihat di sini.

Pupuk Eco Farming untuk singkong

  • Sebelum menanam singkong, sebaiknya netralkan dan gemburkan terlebih dahulu media tanam tersebut. Caranya ambil 60 ml biang dicampur dengan air 20 liter untuk 1 tangkinya. Lebih bagus lagi jika 100 ml dicampur dengan 20 liter air. Untuk ukuran 100 bata maka dibutuhkan 10 tangki. 5 hari sebelum tanam, semprotkan air yang sudah dicampur tadi. Waktu terbaik menyemprot adalah pagi hari, maksimal jam 09.00 pagi atau sore jam 16.30.
  • Jika tanaman singkong telah berumur 14 hari atau 2 minggu semprotkan dengan 1 tangki hand sprayer (17 liter).
  • Lakukan penyemprotan dengan pola 2 minggu sesudahnya.
  • Jadi ada 4 tahapan penyemprotan di sini, olah tanah, umur 14 hari, umur 28 hari, dan 42 hari.
READ  Kalinet, Pupuk Bunga dan Buah!

Cara penggunaan Eco Farming untuk bawang merah

  • Sebelum menanam bawang, sebaiknya netralkan dan gemburkan terlebih dahulu media tanam tersebut. Caranya ambil 60 ml biang dicampur dengan air 20 liter untuk 1 tangkinya. Lebih bagus lagi jika 100 ml dicampur dengan 20 liter air. Untuk ukuran 100 bata maka dibutuhkan 10 tangki. 5 hari sebelum tanam, semprotkan air yang sudah dicampur tadi. Waktu terbaik menyemprot adalah pagi hari, maksimal jam 09.00 pagi atau sore jam 16.30.
  • Jika tanaman bawang telah berumur 14 hari semprotkan dengan 1 tangki hand sprayer (17 liter).
  • Lakukan penyemprotan dengan pola 2 minggu sesudahnya.
  • Jadi ada 4 tahapan penyemprotan di sini, olah tanah, umur 14 hari, umur 28 hari, dan 42 hari.

Penggunaan Eco Farming pada padi

  • Sebelum menanam padi, sebaiknya netralkan dan gemburkan terlebih dahulu media tanam tersebut. Caranya ambil 60 ml biang dicampur dengan air 20 liter untuk 1 tangkinya. Lebih bagus lagi jika 100 ml dicampur dengan 20 liter air. Untuk ukuran 100 bata maka dibutuhkan 10 tangki. 5 hari sebelum tanam, semprotkan air yang sudah dicampur tadi. Waktu terbaik menyemprot adalah pagi hari, maksimal jam 09.00 pagi atau sore jam 16.30.
  • Jika tanaman padi telah berumur 14 hari semprotkan dengan 1 tangki hand sprayer (17 liter).
  • Lakukan penyemprotan dengan pola 2 minggu sesudahnya.
  • Jadi ada 5 tahapan penyemprotan di sini, olah tanah, umur 14 hari, umur 28 hari, umur 42 hari, dan 56 hari.

Cara penggunaan pupuk Eco Farming untuk sawit

Perlu diketahui sebelumnya, dampak penggunaan pupuk urea berlebihan menyebabkan kerasnya struktur tanah di sekitar perkebunan sawit. Salah satu dampak ekologinya adalah berkurangnya sumber-sumber air. Sebagaimana kita ketahui, sudah mulai banyak sumber air di Sumatera yang notabene penghasil sawit terbesar di negeri ini. Penggunaan Eco Farming ini sangat membantu ekologi sekitar perkebunan sawit.

  • Tanamkan (dipendam) sekitar akar sawit pupuk sachet Eco farming kemudian ditutup.
  • Jika usia sawit 6 bulan hingga 2 tahun cukup 0,5 ons saja.
  • Namun jika sudah berusia 2 tahun lebih maka berikan 1 sachet Eco Farming.
READ  3 Kumpulan Obat Keriting Pada Cabe, Kenali Terlebih Dahulu Gejalanya!

Eco Farming untuk pohon karet

  • Pohon karet yang sudah mengeluarkan getah maupun belum bisa menggunakan Eco Farming ini.
  • Cukup 2 atau 3 kali penyemprotan pada pohon karet dengan interval 3 hari.
  • Jika dirasa belum memberikan dampak, maka bisa menambahkan intervalnya.

Pupuk Eco Farming untuk cabe

  • Sebelum menanam cabe, sebaiknya netralkan dan gemburkan terlebih dahulu media tanam tersebut. Hal ini bertujuan menghilangkan residu urea sebelumnya. Caranya ambil 60 ml biang dicampur dengan air 20 liter untuk 1 tangkinya. Lebih bagus lagi jika 100 ml dicampur dengan 20 liter air. Untuk ukuran 100 bata maka dibutuhkan 10 tangki. 5 hari sebelum tanam, semprotkan air yang sudah dicampur tadi. Waktu terbaik menyemprot adalah pagi hari, maksimal jam 09.00 pagi atau sore jam 16.30.
  • Jika tanaman cabe telah berumur 14 hari atau 2 minggu semprotkan dengan 1 tangki hand sprayer (17 liter).
  • Lakukan penyemprotan dengan pola 2 minggu sesudahnya.
  • Jadi ada 4 tahapan penyemprotan di sini, olah tanah, umur 14 hari, umur 28 hari, dan 42 hari.

Eco Farming untuk alpukat

  • Untuk pohon alpukat berumur lebih dari 5 tahun bisa menggunakan Eco Farming ini. Alasannya adalah dengan menanam sistem vegetatif maka usia 5 tahun pohon alpukat baru mulai berbuah.
  • Cukup 2 atau 3 kali penyemprotan pada pohon alpukat dengan interval 3 hari.
  • Jika dirasa belum memberikan dampak, maka bisa menambahkan intervalnya.

Review Eco Farming

  • Menurut Jamaluddin al-Afgani, assesor bidang pertanian organik Lembaga Sertifikasi Profesi Pertanian, Kementrian Pertanian keunggulan Eco Farming terletak pada bakterinya. Yakni mikroba di dalamnya sangat aktif menghambat Nitrogen. Benar memang, setiap tanaman membutuhkan nitrogen, akan tetapi jika berlebihan maka akan merusak struktur tanah. Dampak nyata adalah cacing tanah tidak bisa bertahan hidup di dalamnya.
  • Penggunaan pupuk organik Eco Farming mampu menghemat penggunaan pupuk kimia sebesar 25 %, sehingga akan menghemat 75 % anggaran mereka.
  • Pupuk ini ramah lingkungan dan sudah menerapkan pertanian berkelanjutan dalam misinya.
  • Lebih populer penggunaannya untuk pohon sawit.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.