Masuknya Agama Yahudi dan Nasrani ke Jazirah Arab

By | Agustus 11, 2021
Masuknya Agama Yahudi dan Nasrani ke Jazirah Arab

Jazirah Arab semenjak Ibrahim dan Ismail membangun Ka’bah masih memeluk agama tauhid. Perlahan, ajaran tauhid Ibrahim a.s. mulai pudar dan dilupakan. Agama pagan mengambil alih situasi di jazirah Arab, khususnya Makkah.

Asal mula kata Yahudi

Kita mulai dengan Yahudi. Kata Yahudi diambil dari kata huda, sebagaimana diambil dari perkataan Bani Israil ketika mereka menyembah patung yang dibuat oleh Samiri. Saat itu Nabi Musa sedang berada di Bukit Thursina menerima wahyu selama 40 hari, Samiri digoda oleh syaiton untuk membuat patung sapi dari emas. Dan dia menyuruh Bani Israil untuk menyembahnya.

Nabi Harun tidak berkuasa seperti nabi Musa. Ajakan Nabi Harun diabaikan oleh kaum Bani Israil. Mereka menunggu Nabi Musa saja, kata mereka. Sekembalinya Musa ke Bani Israil, Musa menghancurkan patung sapi tersebut. Musa menghakimi Samiri dan mengusirnya. Nabi Musa pun mengajak kembali Bani Israil untuk bertauhid yang benar, hanya Alloh saja yang mereka sembah.

Orang-orang Bani Israil pun mengatakan “innaa hudna ilayk”, surat al-A’raf ayat 156, yang artinya sesungguhnya kami kembali (taubat) kepada-Mu. Asal mula kata Yahudi berasal dari sini, kata hudnaa, kami kembali (bertaubat). Kemudian menjadi sebuah predikat yang Alloh sendiri sebutkan, istilah ini untuk mereka. Semua pengikut Musa sampai hari kiamat yang tidak mau mengimani adanya nabi setelah Musa disebut Yahudi.

Asal mula kata Nasrani

Begitu juga Nasrani, diambil dari kata nashoro yang berarti menolong. Kata nashoro diambil dari perkataan Nabi Isa ketika bertanya kepada Bani Israil. “man anshori ilallah, qoolal hawariyyuuna nahnu anshorullah”, surat ash-Shaf 14. Maka istilah Hawariyyun adalah sebutan bagi pengikut setia Nabi Isa, yang menolong (anshoro) agama Alloh. Dari kata ini bermula. Orang-orang Nasrani menganggap Yahudi kafir.

Karena Yahudi walaupun beriman kepada Alloh, dan mereka juga meyakini semua nabi sebelum Nabi Musa seperti Nuh, Hud, Sholih, Ibrahim, Syu’aib sebagai nabi Alloh. Yang tidak mereka yakini adalah adanya Nabi setelah Musa. Bahkan diutusnya Nabi Isa dari kaum mereka sediri (Bani Israil) sebagai nabi dan rasul pun mereka ingkari. Titik inilah pengingkaran Bani Israil yang kemudian mereka disebut Yahudi. Begitupun dengan Nasrani, mereka meyakini para nabi di atas Nabi Isa. Tetapi mereka mengingkari adanya nabi setelahnya, maka disebutlah mereka Nasrani.

Raja Yaman Tabban As’ad

Terdapat seorang raja Yaman, bernama Rabi’ah ibn Nasr. Dia bermimpi suatu waktu dan sangat gelisah dengan mimpinya. Mimpinya adalah kerajaannya hancur. Kerajaannya sangat luas. Dia penganut sistem monarki di dalam kerajaannya. Dia penyembah berhala. Dia bertanya kepada dukunnya untuk mengartikan mimpinya. Dukun itu mengartikan kerajaannya akan hancur. Kemudian Rabi’ah memindahkan sebagian besar keturunannya ke daerah sekitar Iraq. Terdapat salah satu keturunannya yang bernama Tabban As’ad. Kerajaannya luas, dia tampan, kuat, kaya, dan memiliki banyak keturunan.

Sudah mafhum di jazirah Arab, apabila ada seseorang berkumpul pada dirinya, ketampanan, kekuatan, kekayaan, dan keturunan maka boleh disematkan julukan atau menjadi nama suku. Munculah julukan bagi Tabban As’ad, yakni Tubba’. Tabban As’ad memiliki jiwa dagang yang kuat. Setiap kali melakukan perjalanan dagang, ia selalu mencari peluang. Suatu ketika ia melewati Madinah, dulu bernama Yatsrib. Ia melihat potensi kurma yang melimpah di sana. Ia pun mengutus anaknya untuk menetap dan berbisnis di sana. Ternyata, anaknya ini berselisih dengan masyarakat Yatsrib dan terbunuh. Marahlah Tabban As’ad atas kematian anaknya. Tabban menyiapkan pasukannya untuk menyerang Madinah. Pecahlah perang. Tabban terkejut dengan perilaku masyarakat Madinah. Pagi hingga sore mereka berperang, tapi dimalam harinya mereka mengirimi makanan kepada pasukan musuh, bahkan mengobati yang sakit. Penduduk Yatsrib waktu itu terdiri dari Yahudi dan suku asli Yatsrib. Suku besar di Yatsrib adalah Aus dan Khazraj.

40 hari Tabban menyerang Yatsrib tetapi belum bisa dikalahkan. Keluarlah 2 pendeta Yahudi. Bertanyalah pendeta itu kepada Tabban; “wahai Tabban, apa yang kamu inginkan dari perang ini? Tabban menjawab; anakku terbunuh di sini, aku akan mengahncurkan kota ini.

Pendeta Yahudi berkata; kamu tidak akan pernah sekalipun bisa menghancurkan tempat ini. Kenapa? Tanya Tabban. Tempat ini adalah mahjorun nabi, tempat hijrahnya nabi terakhir nanti. Dari mana engkau tahu, tanya Tabban? Dari kitab Taurat kami”. Tabban pun tertarik dengan ajaran Yahudi. Dia menganut agama Yahudi. Dan Tabban menawarkan pendeta itu untuk mengajak kembali ke Yaman untuk menyiarkan agama Yahudi. Dari kisah ini, menunjukkan bahwa Yahudi sangat mengenal ciri-ciri nabi terakhir.

Di dalam perjalanan pulang ke Yaman, Tabban melewati suku Huzail. Suku Huzail tidak menyukai Yaman, tapi juga tidak menyukai Makkah. Suku ini berada dekat dengan Makkah. Salah seorang pimpinan suku ini memberi tahukan Tabban bahwa di Makkah ada sebuah rumah yang diagungkan, di dalamnya banyak terdapat emas. Memang benar, saat itu penduduk Makkah banyak menyimpan emas untuk mengagungkan berhala-berhala mereka di sekitar Ka’bah. Tabban pun menyiapkan pasukan untuk mengambil emas yang ada di Makkah.

Ketika hendak menyerang Makkah, dua pendeta Yahudi yang diajak ke Yaman tadi melihat. Mereka berpikir hanya akan pulang ke Yaman, tapi kenapa pasukan Tabban mengangkat pedang. Tabban memberitahukan alasannya kenapa hendak menyerang Makkah. Pendeta Yahudi itu pun menasehati, bahwa di dunia ini tidak ada rumahnya Alloh kecuali tempat ini, Ka’bah. Tabban mengurungkan niatnya menyerang Makkah. Pendeta ini pun menyarankan Tabban untuk thawaf. Sebelum Tabban thawaf, dia bertanya kepada pendeta Yahudi, kenapa mereka enggan ikut thawaf. Pendeta Yahudi menjawab; “kami pendeta Yahudi. Tidak layak bagi kami untuk thawaf selama diletakkan berhala di Ka’bah oleh kaumnya”.

Tabban masuk ke Makkah dan berthawaf. Dia membagi-bagi makanan. Dia pun tertidur. Di dalam tidurnya ia bermimpi meletakkan kain untuk Ka’bah. Inilah awal mula adanya Kiswah. Tabban memberikan kain pada Ka’abah. Tabban pun bermimpi untuk kedua kalinya. Dalam mimpinya ia meletakkan kain untuk Ka’bah. Dan, Tabban pun melapisi kain pertama dengan kain katun terbaik dari Yaman.

Sesampainya di Yaman, Tabban As’ad mengumpulkan pendeta-pendetanya, yakni pendeta atau pimpinan penyembah berhala atau api. Selama itu, mereka bergantian dalam hal peribadatan. Sehari menyembah api, sehari menyembah berhala. Mereka memiliki tempat api yang sangat besar sekali. Saking besarnya, jika pintu penyimpanan api dibuka maka api akan berlari menyembur sangat jauh. Tabban pun mulai menyiarkan agama barunya. Pendeta-pendeta itu pun menolak. Mereka enggan meninggalkan berhala dan api.

Kemudian mereka sepakat memutuskan dengan cara sesuai tradisi mereka. Mereka biasa menyelesaikan masalah dua orang bertikai dengan membiarkan berdiri di depan pintu tempat api persembahan atau altar. Barang siapa disambar api, maka dia yang salah.

Pendeta-pendeta itupun diadu. Pendeta penyembah berhala api dan pendeta Yahudi. Berdirilah pendeta-pendeta itu. Ketika pintu altar dibuka, api menyambar pendeta berhala dan api. Mereka lari, dan kemudian dibawa kembali di depan altar untuk kedua kalinya. Dibukalah kembali pintu api itu dan menyambar pendeta berhala dan api untuk kedua kalinya. Dengan melihat peristiwa ini, seluruh negeri Yaman menganut agama Yahudi.

Berjalannya waktu, Tabban As’ad meninggal. Dia memiliki anak bernama Hassan. Dia sangat percaya diri. Semenjak pertama kali dinobatkan sebagai penerus ayahnya, dia menyampaikan cita-citanya untuk menguasai dunia. Dia bertanya pada penasehatnya; “raja mana yang paling kuat?”. Dijawablah; “raja Qisra, Persia”, negeri penyembah api. Maka Hassan pun berangkat menyerang Qisra, Persia.

Perlu diketahui, di antara empat penguasa dunia terbesar saat itu adalah Qisra, Persia. Tubba’, sebutan untuk raja Yaman, hanyalah kecil sekali. Di tengah perjalanan, para penasehat mengingatkan Hassan sang raja untuk kembali saja ke Yaman. Namun karena sifat percaya diri yang dimiliki sang raja, maka ia enggan menurutinya. Sang raja, Hassan, memilki seorang adik bernama Amr. Dia ikut pula dalam perjalanan itu.

Para penasehat pun meminta Amr untuk membujuk sang raja. Amr sang adik membujuk sang raja untuk menghentikan ekspansinya. Hassan tetap menolak. Seluruh penasehat memberi saran kepada Amr untuk membunuh sang kakak dan setelah kakaknya mati dia akan dinobatkan menjadi raja. Kecuali satu penasehat, dia menolak. Penasehat yang menolak itu bernama Dzuru’ain.

READ  Sejarah kota Makkah dan Peradabannya di Jazirah Arab

Penasehat ini sempat memberikan secarik tulisan dari kulit untuk disimpan. Pertengahan malam, Amr memasuki kemah Hassan sang kakak. Amr mengambil pisau dan menikam Hassan. Hassan pun mati. Amr menggantikannya menjadi raja. Namun malang yang ia dapatkan. Sejak peristiwa pembunuhan itu, selama berbulan-bulan dia gelisah. Tidak bisa tidur di malam hari. Dia bertanya kepada para penasehatnya.

Salah satu penasehatnya berkata; “wahai raja, jika engkau ingin tenang maka bunuh semua penasehat yang telah menyuruhmu untuk membunuh kakakmu”. Dibunuhlah semua penasehat tersebut. Ketika giliran Dzuru’ain hendak dibunuh dia menolak. Dia meminta sang raja untuk membuka secarik tulisan yang pernah ia berikan. Tulisan itu berbunyi; “banyak orang yang melakukan perbuatan sepertimu, membunuh seseorang yang tidak layak dibunuh sehingga akhirnya dia susah untuk tidur di malam hari dan dia ganti dengan begadang”. Dan akhirnya, Dzuru’ain tidak dibunuh.

Berjalannya waktu, Amr meninggal dunia. Maka anak-anak Rabi’ah ibn Nasr berselisih. Sementara politik kerajaan kacau, ada satu kelompok penyamun menyerang dan menguasai kerajaan. Dia bukan orang yang baik. Sikapnya sangat buruk. Suka mengambil istri orang, membunuh, memukul, mencuri. Namanya Khunai’a dzi Syanatiq. Kondisi Yaman saat itu sangat memprihatinkan. Khunai’a menguasai kerajaan berlangsung selama kurang lebih dua tahun. Terdapat salah satu keturunan Rabi’ah ibn Nasr bernama Dzunnuwas. Dzunnuwas ini, dia yang naik ke istana malam hari dan menikam Khunai’a hingga mati. Dan dia pun naik menjadi raja Yaman.

Di negeri Syam, ada seorang pendeta bernama Pinion. Pinion ini mendengar Yaman dikuasai oleh Yahudi. Dia menganggap bahwa Yahudi lebih pantas untuk menganut  Nasrani saat itu. Pinion ingin berdakwah ke Yaman. Sewaktu dia berangkat ke Yaman, di tengah perjalanan kafilahnya dirampok. Dia pun dijadikan tawanan dan diperbudakkan di Afrika. Dia masuk di wilayah Najran.

Penduduk Najran adalah penyembah pohon. Pinion memilki seorang majikan. Majikan ini sangat kagum dengan kealiman dan perilaku Pinion. Majikannya pun bertanya padanya; “apa agamamu wahai Pinion?” Dijelaskanlah agama Nasrani olehnya, sambil ia mendakwahinya. Rupanya majikannya menolak. Pinion menawarkan majikannya, apabila tuhannya berupa pohon besar yang disembah tumbang oleh tuhannya Pinion yakni Alloh, maka majikannya harus beriman kepada Alloh.

Pinion berkata; “bagaimana jika tuhanku Alloh menghancurkan tuhan anda, yakni pohon besar yang dikeramatkan masyarakat Najran?”. Majikannya berkata; “aku akan beriman kepada tuhanmu jika tuhanku dikalahkan”. Pinion pun meminta majikannya untuk mengumpulkan masyarakatnya. Pinion berdoa terus menerus, memohon kepada Alloh hingga akhirnya Alloh kirimkan petir yang sangat besar dan menumbangkan pohon yang dikermatkan itu. Seketika, seluruh penduduk Najran beriman kepada Alloh.

Ashabul Uhdud

Berjalannya waktu, agama Nasrani sangat kuat di Najran. Dari Najran ini lahirlah banyak pendeta Nasrani. Salah satunya bernama Abdullah ibn Samir. Dia menelusuri awal mula perjalanan Pinion bisa sampai di Najran. Ternyata dia menemukan bahwa tujuan gurunya itu bukan di Najran, melainkan di Yaman. Maka berangkatlah Abdullah ibn Samir ke Yaman. Masuklah Abdullah ibn Samir ke Yaman. Y

aman saat itu dipimpin oleh Dzunnuwas. Dzunnuwas ini menobatkan dirinya sebagai tuhan, padahal kakek-kakeknya beragama Yahudi. Sehingga perlahan agama Yahudi hilang di Yaman. Dzunnuwas pun mulai meninggalkan Taurat, dan kembali seperti nenek moyangnya, seperti zaman Rabi’ah ibn Nasr yang menyembah berhala dan api. Dzunnuwas juga mengembalikan tradisi zaman dahulu.

Dia memiliki satu orang penyihir yang dianggap kuat olehnya untuk membantu urusannya. Ketika Abdullah ibn Samir masuk ke Yaman, yang dilihatnya bukan Yahudi lagi masyarakatnya. Melainkan agama pagan. Orang-orang yang masih berpegang teguh pada ajaran Yahudi disiksa oleh Dzunnuwas hingga meninggalkan ajarannya. Abdullah pun mengurungkan niat dakwahnya. Dia tinggal di suatu tempat yang sangat terpencil di Yaman.

Di dalam sebuah gua di atas gunung. Ada beberapa riwayat yang menjelaskan bahwa Abdullah ibn Samir sudah berada di Yaman sebelum Dzunnuwas menjadi raja, dan dia menjadi penasehat kerajaan. Tetapi bukan ini topik bahasan kita. Skip ya. Abdullah ibn Samir berusaha mencuri waktu untuk berdakwah, tetapi sulit karena banyaknya prajurit Dzunnuwas yang memata-matai. Penyihir Dzunnuwas mulai tua. Penyihir itu berkata kepada sang raja untuk mencari penggantinya, yang mana jika sewaktu-waktu dia meninggal maka akan ada penggantinya.

Sang raja pun mengadakan sayembara. Didapatilah seorang anak muda. Namanya Wadhoh. Anak ini cerdas. Satu-satunya anak yang lolos belajar sihir adalah Wadhoh. Setiap pulang belajar dari rumah penyihir, dia diberi emas. Setiap perjalanan ke rumah penyihir, Wadhoh juga melewati guanya Abdullah ibn Samir. Wadhoh tertarik dengan ajaran Abdullah ibn Samir karena sering mendengar ibadahnya. Mulailah berkenalan dengan empunya gua.

Berjalannya waktu, Wadhoh mempelajari sihir dan juga ajaran Nasrani Abdullah ibn Samir. Suatu waktu ilmunya tentang sihir telah mencapai puncak dan pemahaman tentang ajaran Abdullah juga sudah sampai puncaknya. Di tengah perjalanan pulang, terdapat seekor binatang melata yang sangat besar. Binatang itu besar, sehingga banyak orang tidak mampu melewati jalan tersebut. Binatang ini menahan jalan. Jalan itu sangat sempit dan sisi kanan kirinya adalah jurang. Orang-orang berpikir di situ ada murid sang penyihir, Wadhoh.

Wadhoh ingin membuktikan, ajaran mana yang benar. Apakah ajaran penyihir atau ajaran Abdullah ibn Samir. Wadhoh mengambil batu kecil sekali dan melemparkan batu kecil itu ke arah binatang. Sambil melempar, Wadhoh mengucapkan “bismillah Allohu akbar”. Binatang itupun mati dan jatuh ke jurang. Orang-orang pun menganggap bahwa sihir Wadhoh sangat hebat. Wadhoh pun mengatakan bahwa hal itu bukanlah sihir.

Lalu Wadhoh membongkar kedoknya penyihir itu. Sihir itu dusta, bohong. Saya sudah belajar, semua itu hanya penampakan-penampakan yang membuat orang lain takut saja, kata Wadhoh. Wadhoh sangat paham akan sihir. Wadhoh, saat itu mendakwahkan ajaran Nasrani kepada masyarakat Yaman. Semenjak itu, Wadhoh juga tidak pernah belajar pada penyihir. Sang penyihir melaporkan kejadian ini pada sang raja, Dzunnuwas. Sang raja menyuruh prajurit untuk mecari tahu keadaan Wadhoh.

Prajurit itu menemukan kenyatan yang sangat berbeda. Prajurit itu melaporkan pada sang raja bahwa sekarang Wadhoh mendakwahkan ajaran lain. Wadhoh yang sekarang mengatakan bahwa anda (Dzunnuwas) bukanlah tuhan. Anda hanya manusia biasa. Dan mengatakan bahwa penyihir itu juga hanya pembohong. Wadhoh mengajak masyarakat Yaman untuk beriman kepada Alloh. Maka sang raja dan penyihir kaget.

Sang raja memerintahkan untuk menangkapnya. Dibawalah Wadhoh ke kerajaan. Si penyihir marah dan berkata; “hai Wadhoh, apa kau berani menantangku? Mengapa kamu begini?”. Wadhoh berkata; “aku tidak menantangmu. Tapi kamu menipu semua orang. Kamu sendiri yang berkata untuk menanamkan rasa takut, mendustai orang, dan seterusnya, dan itu tidak benar. Tuhan kita adalah Alloh”. Penyihir pun mulai beraksi dan dia menunjukkan sihirnya pada Wadhoh. Tapi Wadhoh tidak bergeming. Apapun yang kamu usahakan adalah sia-sia karena semua itu hanyalah dusta, kata Wadhoh. Penyihir tidak bisa berbuat apa-apa lagi.

Dzunnuwas sang raja akhirnya memerintahkan prajuritnya untuk membawa Wadhoh ke sebuah puncak bukit dan melemparkannya. Sambil diikat, Wadhoh mendakwahi prajurit tersebut. Bertaqwalah pada Alloh, Dzunnuwas itu bukan tuhan, kata Wadhoh. Prajurit bergeming. Dan Wadhoh berdoa; “allohummakfiinihim maa syi’ta, ya Alloh ambil alihlah orang-orang ini”.

Alloh datangkan badai yang besar dan menghancurkan para prajurit. Tinggallah Wadhoh seorang diri. Tersiar berita ke seluruh Yaman, bahwa Wadhoh selamat dari percobaan pembunuhan sang raja. Karena niat Wadhoh ingin berdakwah, maka ia kembali ke istana. Masyarakat Yaman mengikutinya. Dzunnuwas pun heran kenapa Wadhoh tidak mati. Dzunnuwas ingin membunuh Wadhoh untuk kedua kalinya.

READ  Kelahiran Nabi Muhammad SAW

Wadhoh berkata; “percuma, yang bisa menghidupkan dan mematikan aku hanyalah Alloh, tuhanku dan tuhan kita semua yang meciptakan langit dan bumi”. Dzunnuwas menyuruh prajurit untuk mengikat Wadhoh pada sebuah batu besar dan ditenggelamkan di laut. Masyarakat pun mengikuti Wadhoh. Wadhoh pun tetap mendakwahi prajurit tersebut, tetapi mereka bergeming. Wadhoh pun berdoa lagi; “allohummakfiiniihim maa syi’ta”.

Masyarakat Yaman saling berbisik, jika Wadhoh selamat maka mereka akan beriman pada tuhannya Wadhoh. Kemudian Alloh kabulkan doa Wadhoh. Alloh kirimkan ombak besar dan semua prajurit tenggelam. Hanya tersisa Wadhoh dan belenggu yang mengikat pun lepas. Wadhoh kembali ke istana. Dzunnuwas heran. Kemudian Wadhoh memberi tahukan pada sang raja.

Jika ia hendak membunuhnya, maka kumpulkan semua masyarakat Yaman dan panahlah dirinya sembari berkata bismillahi rabbul Ghulam (dengan nama Alloh tuhannya anak muda ini). Apa benar perkataanmu itu wahai Wadhoh? Iya benar, kamu sudah membuktikan dua kali hendak membunuhku tapi gagal. Karena kamu tidak percaya pada tuhanku Alloh. Setelah terkumpul banyak orang, Wadhoh diletakkan di tempat yang tinggi. Dzunnuwas mengambil busur panah dan hendak memanah Wadhoh.

Sebelum memanah, Dzunnuwas mengucapkan kalimat yang diajarkan Wadhoh. Ada dua riwayat yang menyebutkan hal ini. yang pertama, Dzunnuwas mengambil anak panah dan mengucapkan bismllahi rabbul ghulam dan Wadhoh meninggal seketika. Riwayat kedua mengatakan, Dzunnuwas memanah Wadhoh tetapi sebelumnya mengucapkan kalimat bimillahi rabbul Ghulam dengan lirih, sehingga panah itu meleset. Dan Wadhoh pun menyuruh dzunnuwas untuk mengucapkan dengan keras sehingga bisa membunuh Wadhoh.

Pada saat menyaksikan peristiwa ini, 20.000 penduduk Yaman beriman kepada Alloh. Dzunnuwas murka dan dia berbuat kedzaliman. Bukannya beriman kepada Alloh, tetapi dia malah hendak menyiksa 20.000 orang yang beriman pada Alloh. Dzunnuwas membuat parit api yang besar dan memerintahkan 20.000 orang ini untuk dimasukkan ke dalam parit api, kecuali mereka mau kembali beriman pada Dzunnuwas. Kisah pemuda ini disebutkan dalam al-Qur’an surat al-Buruj ayat 1 – 8, yakni ashabul uhdud.

Dari 20.000 orang yang dibunuh Dzunnuwas, terdapat satu orang yang kabur. Namanya Daus dzu Tsa’laban. Dai berhasil lolos dan menyebrang ke Afrika. Dia berpikir untuk mencapai Romawi, di mana satu keyakinan dengannya dan hendak membalaskan perbuatan Dzunnuwas. Sampailah Daus ke tempat kaisar Romawi. Berceritalah ia. Kaisar Romawi marah. Dia mengirim pasukan dan memberikan secarik surat untuk diberikan pada Najasi raja Habasyah. Sewaktu Najasi tahu berita pembunuhan masal oleh Dzunnuwas, ia sangat marah sekali.

Najasi membentuk pasukan menyerang Yaman yang dipimpin oleh dua orang. Iryath dan Abrahah. Iryath adalah panglima perang, sedangkan Abrahah adalah wakilnya. Terjadilah peperangan besar selama beberapa hari. Dzunnuwas kalah, melarikan diri hingga ke laut dan tenggelam. Peperangan dimenangkan oleh pasukan milik Najasi dan yang menjadi pemimpin di Yaman adalah Iryath sang panglima.

Sebenarnya, Iryath ini adalah gubernurnya Najasi. Akan tetapi di Yaman dia adalah seorang raja. Dia seorang yang dzalim. Suka mengambil hak orang, menindas, bahkan pasukannya sendiri dari Afrika dia tindas. Abrahah adalah kebalikan Iryath. Dia tidak suka melihat Iryath menindas pasukannya. Pecahlah perang di antara keduanya, antara panglima dan wakilnya.

Pasukan juga terpecah menjadi dua pihak. Terjadilah perang selama beberapa waktu. Banyak prajurit dari kedua pihak yang mati. Melihat kondisi yang sia-sia ini, Abrahah berkata pada Iryath untuk menghentikan perang. Lebih baik dia dan Iryath yang berduel. Barang siapa yang menang maka dia menjadi raja Yaman. Iryath, adalah panglima perang yang sangat kuat. Memiliki tubuh yang besar dan dia mengetahui bahwa kemapuan Abrahah berada di bawahnya. Dia pun menyanggupi tantangan Abrahah.

Duel sengit pun terjadi. Iryath berhasil memotong hidung Abrahah. Darah pun mengucur deras. Abrahah pun jatuh tersungkur. Melihat kondisi Abrahah yang demikian, hilanglah kewaspadaan Iryath. Dia menganggap dirinya telah menang. Tanpa menyiakan kesempatan, dari belakang Abrahah menusuk Iryath. Matilah Iryath. Dari peristiwa ini muncul julukan bagi Abrahah, yakni Abrahah al-Asyrom. Abrahah yang terpotong hidungnya. Abrahah kemudian menjadi raja Yaman, kalau di Habasyah menjadi gubernurnya Najasi.

Mendengar berita ini, Najasi marah. Dia sampai bersumpah atas nama Alloh ingin menginjak tanah Yaman dan menggundul kepala Abrahah karena dia menganggap itu suatu penghinaan. Abrahah ketakutan. Maka Abrahah menggundul kepalanya dan mengambil sedikit tanah Yaman. Rambut kepala Abrahah yang digundul dan tanah Yaman diletakkan di sebuah kotak bersama dengan secarik surat. Surat itu menceritakan kondisi antara Iryath dan Abrahah, atas sebab apa mereka berperang. Diceritakanlah keadaan tersebut.

Abrahah juga menyebutkan bahwa dia tidak ada niat untuk memberontak. Yaman masih tetap dalam kekuasaannya. Supaya Najasi terlepas dari sumpahnya, Abrahah telah mengirimkan rambut kepalanya yang digundul dan tanah Yaman untuk diinjak. Najasi pun puas, dan sumpahnya telah terpenuhi dengan menginjak tanah yang ada di dalam kotak dari Abrahah.

Berjalannya waktu, Abrahah masih ketakutan. Untuk meyakinkan Najasi dan menyenangkannya, Abrahah membuat sebuah gereja besar diberi nama Kulais. Semua orang di jazirah Arab dia paksa memeluk  Nasrani sebagaimana Najasi. Abrahah ingin membuat semua orang di jazirah Arab datang mengunjungi gereja Kulais ini. Bahkan dia sampai mengirim surat ke seluruh jazirah Arab supaya semua orang di jazirah Arab mau mendatanginya.

Ahlun Nasi’

Terdapat satu kelompok di Makkah, diberi julukan Ahlun Nasi’ (suka menerlambatkan sesuatu). Kehidupan zaman sebelum datangnya nabi adalah kehidupan bar-bar. Setiap suku terbiasa menjarah suku yang lain. Hal ini lumrah pada zaman itu. Di dalam syari’at nabi Ibrahim ada 4 bulan yang diharamkan berperang di dalamnya. 4 bulan itu adalah Rajab, Dzulqo’dah, Dzulhijjah, dan Muharram.

Keyakinan orang arab saat itu, ketika melihat bulan Dzulqo’dah, Dzulhijjah, dan Muharram berdekatan mereka gelisah. Mereka hidup dari peperangan, penjarahan. Tiga bulan lamanya mereka menahan tidak berperang. Keadaan yang sulit bagi mereka. Maka mereka membentuk Ahlun Nasi’. Mereka adalah orang-orang yang dianggap cerdas dan bijaksana di antara kaumnya. Mereka bisa membolak-balikkan nama-nama bulan.

Tujuan mereka adalah mengatur nama-nama bulan sesuai keinginan mereka. Supayanya mereka tetap dapat berperang. Sisi positif dari Ahlun Nasi’ adalah mereka sangat mencintai Ka’bah. Tidak boleh ada seorang pun yang bisa mencoreng atau menghina Ka’bah. Mereka sangat menjaga Ka’bah. Mereka siap mati untuk melindunginya. Ketika mereka tahu surat dari Abrahah, salah satu dari mereka berangkat ke Yaman. Dia mendatangi gereja Kulais. Dia juga buang hajat besar dan kecil di sana, kemudian kotoran itu dia sapukan ke gereja. Setelah itu ia kembali ke Makkah.

Abrahah merobohkan Ka’bah

Keesokan harinya, Abrahah mengetahui hal tersebut. dia sangat marah sekali. Dia bertanya siapa yang melakukan semua itu. Dijawablah, mereka adalah Ahlun Nasi’. Orang yang suka menerlambatkan bulan. Mereka tinggal di Makkah, ada Ka’bah di sana. Apa itu Ka’bah, tanya Abrahah. Ka’bah adalah tempat ibadahnya orang Arab. Bangunan itu sangat dimuliakan oleh seluruh penduduk di jazirah Arab. Dan, Ahlin Nasi’ sangat menjaga Ka’bah. Maka atas hal tersebut Abrahah mengambil sikap untuk menyerang Ka’bah.

Abrahah berasal dari Afrika. Dan di sana terkenal banyaknya gajah. Sewaktu pergi ke Yaman, dia juga membawa pasukan gajahnya. Gajah ini bukan gajah biasa, melainkan gajah yang terlatih berperang. Sebagaimana kawanan gajah, di dalam kelompok itu pasti ada pemimpinnya.. Gajah itu berwarna putih, namanya Mahmud. Abrahah menghimpun kekuatan, menyiapkan pasukan perang.

Tapi Abrahah tidak tahu di mana itu Makkah. Maka dia berjalan. Kabilah-kabilah di jazirah Arab tahu kalau Abrahah hendak menyerang Makkah untuk menghancurkan Ka’bah. Kabilah-kabilah arab memang menyembah berhala, akan tetapi mereka juga sangat memuliakan Ka’bah. Mereka tetap berhaji, umroh, menjalankan syari’at Nabi Ibrahim. Sebagian dari kabilah itu keluar untuk melawan pasukan Abrahah.

Di antara kabilah itu ada satu pimpinan suku arab yang bernama Dzu Nafar. Tapi dia akhirnya dikalahkan dan menjadi tawanan. Keluar lagi dari suku Huts’um dipimpin oleh Nufail. Lagi-lagi mereka dikalahkan dan ditawan. Dua kepala suku telah ditawan. Dan dua suku ini termasuk suku besar di Arab. Maka atas hal ini menjadikan suku-suku lain ragu untuk melawan pasukan Abrahah.

READ  Sejarah Kabah dan Awal Kemusyrikan di Makkah

Sampailah pasukan Abrahah di kota Thaif. Pimpinan suku Thaif enggan berperang, karena mereka tahu seberapa besar kekuatan musuh. Mereka menawarkan bantuan untuk menunjukkan di mana Makkah. Di antara semua masyarakat Thaif tidak ada yang berani menunjukkan letak Makkah, melainkan satu orang bernama Abu Rughol. Sesampainya di gerbang kota Makkah, pintu Bani Syaibah tiba-tiba Abu Rughol ini mati.

Menjadi sebuah catatan unik, sejak hari itu hingga hari ini jika ada orang yang berkhianat maka dipanggil Abu Rughol. Pada saat itu, Abrahah membuat kemah-kemah di dekat pintu gerbang Makkah. Waktu itu yang memimpin Makkah adalah Abdul Muthalib. Sebelum memasuki Makkah, Abrahah berusaha menakut-nakuti penduduk Makkah dengan mengambil hewan ternak yang digembalakan. Termasuk 200 ekor unta milik Abdul Muthalib.

Adapun setelah itu Abdul Muthalib mengadakan pertemuan dengan pimpinan suku-suku yang ada di Makkah. Mereka berpendapat, sepertinya mereka tidak mungkin menang jika melawan pasukan Abrahah. Mereka memutuskan supaya Abdul Muthalib menemui Abrahah dan berbicara dengannya. Abrahah, dia belum lama tinggal di Yaman. Dia tidak bisa berbahasa Arab. Dia menguasai bahasa Afrika.

Abrahah enggan menemui siapapun, termasuk raja Makkah. Abdul Muthalib mencoba menemui Dzu Nafar, salah satu tawanan Abrahah. Dzu Nafar mengusulkan supaya Abdul Muthalib menemui pemegang tali kendali Mahmud, Unais namanya. Bertemulah Abdul Muthalib dengan Abrahah di kemahnya. Abdul Muthalib ini adalah orang yang sangat tampan, putih, bersih, dan berwibawa.

Sampai-sampai ketika Abdul Muthalib duduk dilantai Abrahah pun mengikutinya duduk di lantai. Abrahah memanggil penerjemah. Abrahah kemudian bertanya; “untuk apa kamu datang ke sini?” Abdul Muthalib menjawab; “pasukan anda sudah mengambil hewan gembalaan kami, kami meminta anda mengembalikan semua itu”. Abrahah tiba-tiba marah dan berkata; “waktu kamu datang aku lihat kewibawaanmu, kamu duduk di lantai aku pun mengikutimu, aku pikir kamu memintaku untuk tidak menyerang rumah ini, tapi ternyata kamu hanya meminta hewan gembalaan ini”.

Lalu Abdul Muthalib berkata; “wahai raja Abrahah, kalau kami hanya pemilik hewan gembalaan, tapi kalau rumah itu ada pemiliknya, ada tuhannya. Maka tuhannya yang akan menjaganya”. Baiklah, kata Abrahah. “Kalian terlalu kecil bagiku, aku hanya ingin menghancurkan rumah itu (Ka’bah), kalian keluarlah”. Selama tiga hari mereka diperintahkan keluar Makkah. Berbondong-bondong masyarakat Makkah keluar dari rumah mereka. Mereka naik ke bukit-bukit di sekitarnya. Setelah Makkah kosong dari manusia, Abrahah dan pasukannya masuk Makkah.

Sesampainya di dekat Ka’bah, Mahmud si pemimpin gajah duduk. Dia diperintahkan duduk oleh Dzu Nafar. Semua gajah di belakangnya pun ikut duduk. Setelah itu, Mahmud enggan berdiri. Ketika diperintah menengok, dia hanya bisa menengok arah Yaman. Sampai kulit para gajah ditusuk-tusuk, para gajah enggan berdiri. Setelah itu terlihat dari kejauhan langit menjadi sangat gelap. Dan pada saat itu terlihat sangat banyak, ketika mendekat tampaklah burung (Ababil) berbondong-bondong membawa batu-batu kecil dari Neraka Sijjil. Sebagian riwayat menyebutkan bahwa batu itu lebih kecil dari biji kurma.

Setiap burung membawa dua batu, dan jika dilepaskan dari atas maka akan jatuh mengenai kepala pasukan bisa menembus perutnya. Bahkan jika mengenai kulit gajah, pun bisa menembusnya. Seketika pasukan itu mati, termasuk Abrahah.

burung ababil, abrahah, pasukan gajah

burung Ababil menghujani pasukan Abrahah

Yaman saat itu sudah masuk agama Nasrani. Sebelum Abrahah berangkat ke Makkah, dia sempat menunjuk anaknya yang bernama Masruq. Berjalannya waktu, Masruq meninggal dan digantikan oleh anaknya Yaksum. Di zaman Yaksum ini, ada satu turunan dari Rabi’ah ibn Nasr bernama Syeif ibn Dzi Yazin. Orang ini muncul di zaman Yaksum. Dia berpikir bagaimana caranya mengembalikan kekuasaan kakek-kakeknya dahulu.

Pergilah di ke kaisar Romawi. Sesampainya di sana dia menyampaikan maksudnya, ingin meminta bantuan merebut kekuasaan yang dahulu milik kakek-kakeknya. Sikap kaisar Romawi dingin padanya. Sebab dinginnya karena kaisar Romawi satu keyakinan dengan Yaksum, agama Nasrani. Lalu beralihlah Syeif ibn Dzi Yazin menemui Nu’man ibn Mundzir, salah seorang penguasa Arab juga.

Kilas balik sebentar, di awal setelah Rabi’ah bermimpi kerajaan akan hancur. Dia memindahkan sebagian keturunannya ke Iraq. Nah, Nu’man ibn Mundzir ini masih keturunan Rabi’ah ibn Nasr yang pindah ke Iraq. Syeif meminta bantuan pada Nu’man, akan tetapi Nu’man menjelaskan kondisinya tidak memungkinkan karena mereka terlalu kecil kekuasaannya. Wilayah ini tunduk pada Qisra, raja Persia, kata Nu’man. “Setiap tahun saya selalu memberi upeti ke Qisra. Kalau kau mau kamu bisa bersabar di sini dulu. Beberapa bulan lagi ada pengiriman utusan ke sana”. Pergilah Syeif ke Persia. Setiap hari Qisra hanya duduk di singgasananya setelah mandi. Ketika upacara penyembahan Qisra, semua masyarakat bersujud padanya, kecuali Syeif. Qisra melihat hal itu kemudian dia bertanya; “hai anak muda, mengapa kamu enggan bersujud padaku?”.

Aku bukannya tidak mau sujud, akan tetapi ada sesuatu yang besar menghalangiku untuk sujud”, kata Syeif. Syeif pun bercerita tentang maksud tujuannya. Qisra menganggap Yaman adalah suatu tempat yang kecil dan tidak memilki apa-apa. Qisra tidak membantu Syeif apapun, hanya memberi hadiah berupa seribu kepingan perak dan pakaian-pakaian megah. Syeif pun melakukan tindakan yang membuat Qisra berpikir ulang. Syeif keluar istana dan memanggil penduduk Madain, ibukota Persia.

Dia membagi-bagikan pakaian megah dan perak yang diberikan Qisra. Hal ini menarik perhatian Qisra, sehingga Syeif pun disuruh masuk kembali. Ditanyalah Syeif oleh Qisra. “Mengapa engkau bagi-bagikan perak dan pakaian yang kuberikan padamu?”. “Aku jauh-jauh datang dari Yaman ke Persia tidak untuk ini. Di tempat asalku, gunung-gunungnya berisi emas dan perak. Yang aku butuhkan adalah bantuan pasukan”, kata Syeif. Rasa tamak dalam diri Qisra pun muncul. Qisra pun berniat memberi bantuan pasukan untuk mengalahkan Yaksum.

Salah satu penasehat Qisra memberi usulan supaya ribuan tahanan di penjara yang akan dibunuh dijadikan tentara saja. Qisra hanya menyelipkan sedikit pasukan inti. Ribuan tahanan dipersenjatai, diberi baju zirah. Berangkatlah mereka ke Yaman, dipimpin oleh salah satu panglima perangnya Qisra bernama Hurmuz. Singkat cerita, pasukan Hurmuz ini memenangkan pertempuran. Yaksum mati. Orang-orang dari Afrika pun diusir pergi. Akan tetapi, yang menjadi raja selanjutnya bukanlah Syeif ibn Dzi Yazin. Melainkan Hurmuz. Dia tunduk di bawah Qisra. Dengan begitu, masyarakat Yaman saat itu tidak beragama Yahudi ataupun Nasrani lagi.

Berjalannya waktu, Hurmuz mati dan diganti oleh anaknya Murzuban. Murzuban tunduk pada Qisra. Murzuban mati, kemudian diganti anaknya Tujuban. Tujuban mati digantikan oleh anaknya Badzan. Pada zaman kekuasaan Badzan, Nabi Muhammad saw. pernah mengirimi surat pada Qisra. Qisra pun marah. Qisra mengirimi surat dan menyuruh Badzan untuk membawa Muhammad ke Persia. Badzan mengirim dua panglima perangnya. Dua panglima tersebut menemui Nabi saw. Mereka hendak membawa Nabi saw ke hadapan Badzan.

Tapi sebelum itu, Nabi menjelaskan tentang islam. Mereka tetap meyakini Qisra sebagai tuhannya. Kemudian nabi saw. bertanya; “bagaimana jika tuhanku membunuh tuhanmu?”. Bagaimana bisa? Kata mereka. Sampaikan pada Badzan, raja kalian bahwa Qisra tuhan kalian akan mati dibunuh oleh tuhanku malam ini, kata Nabi saw. Bagaimana kamu tahu? Tanya mereka. Wahyu dari langit; kata Nabi saw.

Nabi saw. pun memberikan jaminan untuk menangkapnya kembali jika apa yang disampaikan tidak benar. Kedua panglima itu pun pulang dan menyampaikan persis apa yang terjadi kepada Badzan. Kemudian berselang 1,5 bulan setelah kejadian itu, datanglah berita bahwa Qisra telah mati pada malam panglimanya bertemu dengan Nabi saw. Dengan ini maka Badzan masuk Islam dan diikuti oleh rakyatnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *